fbpx

Topik 2 – Koneksi Antar Materi – Pendidikan dan Nilai Sosial Budaya

Menurut Ki Hajar Dewantara Pendidikan memberikan tuntunan terhadap segala kekuatan kodrat yang dimiliki ana kia mampu mencapai keselamatan dan kebahagiaan setinggi-tingginya baik sebagai seorang manusia maupun sebagai anggota masyarakat. Sedangkan pengajaran merupakan bagian dari Pendidikan. Pengajaran adalah proses Pendidikan dalam memberikan ilmu berfaedah untuk kecakapan hidup anak secara lahir dan batin. Oleh sebab itu, pendidik berkewajiban menuntun tumbuhnya kodrat yang ada pada diri anak agar dapat memperbaiki lakunya (bukan dasarnya) hidup dan tumbuhnya kekuatan kodrat anak. Terdapat pula dasar-dasar pemikiran dan Pendidikan Ki Hajar Dewantara yaitu :

  • Kodrat alam dan kodrat zaman

Ki Hajar Dewantara menjelaskan bahwa dasar Pendidikan anak berhubungan dengan kodrat keadaan baik itu kodrat alam maupun kodrat zaman. Jika kita melihat dari kodrat zaman Pendidikan saat ini menekankan pada keterampilan abad 21 yang dapat direalisasikan dalam kodrat alam yaitu konteks lokal sosial budaya peserta didik

  • Budi pekerti

Budi pekerti atau dapat dikenal sebagai akhlak atau watak atau karakter merupakan perpaduan antara gerak pikiran, perasaan, dan kehendak, yang melatih anak memiliki kesadaran diri yang utuh untuk menjadi dirinya sendiri.

  • Sistem among

Dalam “menuntun” anak diberi kebebasan namun pendidik sebagai pamong dalam memberikan tuntunan agar anak dapat menemukan kemerdekaannya dalam belajar.

  • Peran guru

“Ing ngarso sung tuladho” (guru sebagai suri tauladan anak dan siswa)

“Ing madya mangun karso” (yang ditengah memberikan semangat ataupun ide-ide yang mendukung)

“Tut wuri handayani” (yang dibelakangan memberikan motivasi).

  1. Apa yang Anda percaya tentang peserta didik dan pembelajaran di kelas sebelum Anda mempelajari topik ini?

Pembelajaran yang saya yakini bahwasanya setiap peserta didik memiliki ciri khas dan karakter masing-masing hal tersebut tertanam pada gaya belajar tiap-tiap peserta didik. gaya belajar adalah kombinasi antara cara seseorang dalam menyerap pengetahuan dan cara mengatur serta mengolah informasi atau pengetahuan yang ia dapat. Peserta didik dengan gaya belajar visual mempunyai nada suara yang tinggi,berbicara dengan cepat dan tidak suka mendengarkan orang lain, lebih suka bebricara dengan bertatap muka, berpakaian rapi dan teratur, suka membaca dan dapat membaca dengan cepat, teliti.

Peserta didik dengan gaya belajar auditorik mempunyai suara yang jelas dan kuat, lebih suka berbicara melalui perantara seperti telepon, suka mendengarkan orang lain, sering berbicara sendiri atau menggumam, banyak bicara, tidak suka membaca, saat marah mereka cenderung mengekspresikannya dengan marah, suka mendengarkan musik, suka dengan diskusi kelompok, dan lain-lain. Sedangkan Peserta didik dengan gaya belajar kinestetik mempunyai suaranya cenderung berat, sering menggunakan bahasa tubuh atau gerakan, berbicara lambat, tidak bisa duduk dalam waktu yang lama, saat belajar suka berjalan-jalan, menyukai permainan, olahraga atau kegiatan yang melibatkan fisik, dan sebagainya.

  1. Apa yang berubah dari pemikiran atau perilaku Anda setelah mempelajari topik ini?

“Pendidikan berhamba pada siswa” yang membuat ambigu dalam mempelajari topik ini namun saya dapat mencerna dengan membuat perumpaman yakni “ibarat kertas putih kosong yang akan ditulis oleh tinta, tidak peduli berapa mahal harga tinta pena yang tergores pada akhirnya isi dari kertas  yang akan menentukan seberapa mahal kertas tersebut”. Hal ini mempunyai persamaan bahwa memang kita fokus pada media dan alat pembelajaran, namun hal yang lebih utama adalah bagaimana siswa merasa “aman”, “nyaman”, “senang” dalam proses belajar. Tentunya Siswa diberi kesempatan untuk mengembangkan diri dalam pembelajaran tutor sebaya. Guru harus hormati dan bangkitkan semangat siswa agar bisa menyerap ilmu dengan mudah. Pendidikan yang menghamba pada anak menekankan pada minat, kebutuhan, dan kemampuan individu. Menghadirkan model dan metode belajar yang menggali motivasi anak, membangun habit pembelajar sejati, suka membaca, dan senang mencari pengetahuan. Pembelajaran seperti ini juga mengembangkan kualitas SDM di era mendatang seperti kreativitas, inovasi, kepemimpinan, percaya diri, kemandirian, disiplin, kekritisan berpikir, daya nalar tinggi, kemampuan berkomunikasi, kerja tim, dan wawasan global.

  1. Apa yang dapat segera Anda terapkan lebih baik agar kelas Anda merefleksikan pemikiran KHD?

Dengan melakukan observasi baik secara langsung maupun dari guru BK mengenai gaya belajar peserta didik, melakukan pendekatan dengan home visit pada waktu tertentu, menjadi teladan bagi peserta didik sehingga dapat menanamkan nilai karakter budi pekerti luhur.