Hibar Syahrul Gafur Engineering Management Student in Bandung Institute of Technology 0shares Ketika Hutan Dianggap Sebatas Kumpulan Daun Hijau Read More Pelestarian Kijing (Pilsbryoconcha exilis) dalam Mengatasi Dampak Perubahan Iklim pada Kawasan Perairan Danau Air Tawar di Seluruh Dunia Hibar Syahrul Gafur NIM.14417045 Program Studi Manajemen Rekayasa, Fakultas Teknologi Industri, Institut Teknologi Bandung Jl. Ganesha no. 10 Bandung, Indonesia, 40132. (022) 2500935. Email: hibarsyahrul@gmail.com Sebagai dampak dari pemanasan global yang terjadi belakangan ini, kadar oksigen pada perairan danau air tawar di seluruh dunia semakin menipis. Hal ini disebabkan oleh kenaikan suhu di permukaan danau pada zona epilimnion sebagai dampak pemanasan global. Dilansir dari jurnal Nature yang diterbitkan oleh Stephen F. Jane dkk pada (2/6/2021), diketahui bahwa penurunan level oksigen di danau-danau seluruh dunia mencapai tiga hingga sembilan kali lebih cepat dalam 40 tahun terakhir. Penelitian tersebut menyatakan bahwa level oksigen menurun sebesar 19% di kedalaman air danau dan 5% di permukaannya. Berkurangnya oksigen di kawasan danau sangat berbahaya bagi habitat perairan tersebut karena berpotensi menurunkan level produktivitas perairan danau air tawar. Berdasarkan studi kasus yang dilakukan oleh Partomo dkk (2011) mengenai ketergantungan dan kerentanan masyakarat terhadap Danau Rawa Pening, diketahui bahwa mayoritas masyarakat yang tinggal di tepi danau dengan pendapatan kurang dari satu juta rupiah memiliki ketergantungan yang sangat tinggi terhadap danau sebagai sumber mata pencaharian mereka. Sementara dalam Daftar Merah IUCN, saat ini spesies air yang terancam punah sudah terindentifikasi sebanyak 73,7%. Seiring dengan menurunnya produktivitas perairan pada kawasan danau air tawar di seluruh dunia, sumber pemasukan masyarakat yang mengandalkan danau sebagai sumber mata pencaharian sehari-hari mereka pun ikut terancam. Oleh karena besarnya dampak yang ditimbulkan oleh peningkatan suhu di permukaan danau, tulisan ini dibuat untuk memberikan insight terhadap pelestarian kawasan danau air tawar dalam upaya menanggulangi dampak pemanasan global. Dalam sebuah proyek bernama SOIReE (Southern Ocean Iron RElease Experiment) yang dilakukan oleh Boyd dan Law pada Desember 2001, sebuah eksperimen terkendali pernah diuji cobakan untuk meningkatkan level produktivitas perairan yang berdampak pada meningkatnya kadar oksigen pada kawasan perairan laut lepas Southern Ocean. Eksperimen tersebut dilakukan dengan melepaskan sejumlah kurang lebih 7100 kg FeSO4 kepada 50 km2 kawasan perairan laut lepas di sebelah selatan kawasan negara Selandia Baru yang memiliki level produktivitas yang rendah. Pelepasan FeSO4 itu dilakukan dengan tujuan untuk meningkatkan level produktivitas dalam kawasan perairan tersebut yang diindikasikan oleh kenaikan jumlah phytoplankton yang hidup dan berfotosintesis. Sehingga, kadar oksigen terlarut dalam air maupun yang dilepaskan ke udara meningkat. Dalam penelitian tersebut diketahui bahwa ion Fe3+ ini berperan sebagai penyusun utama enzin nitrogenase dalam cyanobacteria sehingga organisme fotosintetik bersel tunggal tersebut mampu mengikat lebih banyak unsur nitrogen yang menjadi bahan makanan utamanya. Pasca-dilakukannya pelepasan senyawa FeSO4, dalam waktu 13 hari saja terjadi ledakan cyanobacteria di kawasan perairan yang memiliki level produktivitas yang sangat rendah dan lonjakan reproduksi tersebut mampu bertahan selama 40 hari lamanya. Pelepasan FeSO4 ke dalam kawasan perairan tersebut nyatanya memiliki lebih banyak dampak negatif yang ditimbulkan karena penambangan besi dan pengolahan besi daur ulang meninggalkan carbon footprint yang sangat tinggi. Dilansir dari artikel yang disubmit oleh Christian Hoffman pada (3/6/2020), produksi besi di tahun 2018 saja sudah menyumbangkan CO2 ke udara sebanyak 1,8 ton. Oleh karena itu, penulis mengusulkan agar peningkatan ion Fe3+ dilakukan dengan mekanisme yang alami. Salah satu cara yang dapat dilakukan untuk meningkatkan kadar ion Fe3+ di kawasan perairan danau yaitu dengan melalui pembudidayaan kerang air tawar atau Pilsbryoconcha exilis yang hidup di zona hypolimnion. Kerang air tawar memiliki berbagai keunggulan dan hubungan timbal balik yang positif terhadap lingkungan perairan danau air tawar. Salah satunya yaitu kemampuan kerang untuk mengatur tingkat metabolisme oksigen dengan baik sehingga masih dapat hidup pada keadaan dengan kadar oksigen dalam air dalam jumlah yang sangat sedikit (Sulistiawan, 2007). Di samping itu, kerang air tawar ini memiliki tingkat reproduktivitas yang sangat tinggi terutama pada negara tropis seperti di Indonesia. Dilansir dalam paper yang dipublikasikan oleh Rahayu (2015), hasil fortifikasi cangkang kerang diketahui mengandung mineral zat besi sebanyak 2,54%. Melalui reaksi redoks yang terjadi secara alami pada lingkungan aquatik air danau, diharapkan pelepasan ion Fe3+ tersebut mampu menyeimbangkan kadar zat besi pada zona epilimnion sebagai unsur utama penyusun enzim nitrogenase pada cyanobacteria agar tidak hanya menumpuk pada zona hypolimnion. Mengacu pada hasil proyek SOIReE yang dilakukan pada perairan laut lepas bagian selatan Selandia Baru, maka dibutuhkan sekitar 142 gram ion Fe3+ yang dilepaskan ke perairan setiap meter perseginya untuk menghasilkan phytoplankton yang bertahan dalam 40 hari. Berdasarkan kadar zat besi yang dimiliki oleh kulit kerang air tawar, maka jumlah kerang yang dibudidayakan di kawasan danau sebaiknya tidak melampaui atau kurang dari 5,59 kg per meter persegi dalam 40 hari. Pelestarian kerang air tawar ini diharapkan dapat menyeimbangkan kadar oksigen pada perairan danau di seluruh dunia yang mulai menipis sebagai dampak dari pemanasan global dan meningkatkan kadar oksigen yang berakibat pada menurunnya suhu rata-rata permukaan bumi. Di sisi lain, hasil tangkapan kerang sebesar yang diusulkan tersebut mampu memberikan keuntungan ekonomis kepada nelayan kerang air tawar sebesar Rp83.890,00/m2 dalam satu periodenya. Pelestarian kerang di kawasan perairan danau air tawar dapat disebut sebagai sebuah langkah sederhana yang cukup mudah dilakukan oleh segenap masyarakat terutama bagi mereka yang tinggal di kawasan sekitar danau air tawar. Eksploitasi kerang secara besar-besaran sebaiknya mulai dihindari untuk kebaikan bersama dalam menjaga ekosistem kawasan perairan danau air tawar. Eksploitasi ini dapat dihindari melalui pembudidayaan kerang air tawar yang terkendali sehingga mengurangi tingkat mortalitas satwa yang menempati kawasan perairan danau tersebut baik disebabkan oleh ledakan phytoplankton yang mengurangi intensitas cahaya matahari maupun berkurangnya jumlah phytoplankton yang berakibat pada menurunnya kadar oksigen terlarut dalam air danau. Pelestarian kerang air tawar yang terkendali mampu memberikan keuntungan bagi masyarakat sekitar yang mengandalkan danau sebagai sumber pendapatan selaku problem owner dalam permasalahan ini sehingga mereka dapat terhindar dari dampak perubahan iklim yang berpotensi mengurangi sumber penghasilan sehari-hari mereka. Dalam rangka pelestarian kerang pada kawasan perairan danau di seluruh dunia, dibutuhkan pengendalian dan pengawasan yang berkelanjutan karena over-reproduction yang terjadi di sisi lain dapat berakibat pada over-consumption phytoplankton sehingga produksi oksigen berdistribusi mendekati kurva nornal. Maksudnya, apabila jumlah kerang air tawar tersebut terlalu banyak maka berakibat pada berkurangnya kadar oksigen terlarut dalam kawasan perairan air danau. Sehingga, pengendalian budidaya kerang air tawar sebaiknya memberikan hasil yang bersifat win-to-win solution baik terhadap masyarakat maupun lingkungan sekitar. Berkenaan dengan hal ini, dapat disimpulkan bahwa pelestarian kerang air tawar merupakan upaya alami yang sebaiknya dilakukan untuk menjaga keseimbangan produksi phytoplankton di Indonesia maupun dunia secara umum sehingga berdampak pada meningkatnya kadar oksigen terlarut pada kawasan perairan zona hypolimnion danau air tawar di seluruh dunia. Dengan meningkatnya kadar oksigen pada perairan danau air tawar, diharapkan kematian flora dan fauna dapat terkendali dan tidak merugikan perekonomian masyarakat yang mengandalkan danau sebagai sumber mata pencaharian mereka. REFERENSI Anon, 2021. The IUCN Red List of Threatened Species. Available at: https://www.iucnredlist.org/search/stats?query=lake&searchType=species [Accessed June 10, 2021]. Boyd, P.W. & Law, C.S., 2001. The Southern Ocean Iron RElease Experiment (SOIREE)—introduction and summary. Deep Sea Research Part II: Topical Studies in Oceanography, 48(11-12), pp.2425–2438. Hoffmann, C., Hoey, M.V. & Zeumer, B., 2021. Decarbonization challenge for steel. McKinsey & Company. Available at: https://www.mckinsey.com/industries/metals-and-mining/our-insights/decarbonization-challenge-for-steel [Accessed June 9, 2021]. Jane, S.F. dkk., 2021. Widespread deoxygenation of temperate lakes. Nature, 594(7861), pp.66–70. Partomo dkk., 2011. Ketergantungan dan Kerentanan Masyarakat Terhadap Sumberdaya Danau: Kasus Danau Rawa Pening. Media Konservasi, 16(3), pp.114-121. Rahayu R., Leksono T., Desmelati., 2015. Analisis Kandungan Mineral pada Tepung Cangkang Kerang Air Tawar (Pilsbryoconcha exilis) Berdasarkan Ukuran Cangkang yang Berbeda: Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Riau. Sulistiawan, R. S. N., 2007. Potensi Kijing (Pilsbryoconcha exilis, Lea) sebagai Biofilter Perairan di Waduk Cirata, Kabupaten Cianjur. Jawa Barat: Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor.