Mediana Jacqueline 0shares AKSI NYATA TOPIK 4. PERSPEKTIF SOSIOKULTURAL DALAM PENDIDIKAN INDONESIA Read More Menyusuri jalan gelap berebut dengan tikus, kecoak dan serangga lainnya merupakan keseharian Rusi. Namun yang gelap dalam hidup Rusi bukan hanya jalan menuju ke rumahnya. Rusi (bukan nama sebenarnya) tinggal bersama nenek yang sulit melihat dan sulit mendengar serta adik yang masih kecil. Sewaktu-waktu Rusi menanti kabar dari konveksi kenalan, jika mereka membutuhkan tenaga kerja serabutan. Itupun dengan bayaran seadanya. Tanpa ijazah SMP dan keahlian khusus di ibukota negara, Rusi setiap hari bertaruh apakah ia akan mampu membawa pulang uang untuk makan sekeluarga. Rusi hanyalah satu dari sekian anak yang terjerat dalam situasi NEET (Not in Education, Employment or Training), data BPS DKI Jakarta (2021) menunjukkan 17.19% usia muda (15-24 tahun) yang terjerat dalam kondisi serupa, menempati posisi ketiga dibandingkan provinsi lain secara nasional. Tingkat NEET Nasional sendiri berada pada angka 23.22% pada 2022 dengan jumlah penggangguran terbanyak pada rentang 20-24 tahun. Bukan tanpa harapan sebenarnya situasi di atas. Beberapa program penanggulangan telah dikerahkan Pemerintah. Kartu Jakarta Pintar (KJP) ataupun Program Keluarga Harapan (PKH) contohnya, merupakan bahtera-bahtera yang dilayarkan untuk melabuhkan keluarga pra sejahtera menuju ke situasi yang lebih berdaya. Sayangnya tidak semua masyarakat memiliki kemampuan naik ke atas bahtera ini. Iliterasi dan kurangnya kemampuan berpikir kritis menjadi salah satu alasan. Selain itu, kebanyakan masyarakat yang berada dalam kondisi tertinggal, terdepan dan terluar (3T) juga terisolasi dari akses-akses informasi. Padahal, bagi individu dalam kondisi tidak berdaya, informasi menjadi modal krusial untuk mendapat karcis naik bahtera menuju kesejahteraan. Ditambah lagi remaja seperti Rusi tidak hanya membutuhkan dukungan dana pendidikan, namun juga dukungan biaya hidup agar ia dapat mencukupi kebutuhan diri dan keluarga sambil belajar. Di sinilah pentingnya peran swadaya masyarakat dari seluruh lapisan dan golongan, dan inilah juga yang ingin dituju konsep Comprehensive Community Planning (CCP).  CCP sendiri merupakan metode perencanaan berbasis komunitas dimana masyarakat berperan sebagai penggerak yang memetakan masalah, mencari sumber daya di sekitar dan merumuskan solusi atau mencari bantuan untuk menyelesaikan tantangan yang dihadapi. Secara filosofis, konsep ini sebenarnya telah lama dikenal masyarakat Indonesia sebagai gotong royong. Seperti kerja bakti contohnya, sebelum menghadapi musim hujan dan kemungkinan banjir, masyarakat yang terlibat dalam kerja bakti bersama-sama mencari titik dimana saluran air bisa tersumbat dan membersihkannya bersama. Demikian juga bangsa ini perlu menyiapkan pemimpin-pemimpin berkualitas menyongsong Indonesia Emas 2045 agar dapat mencapai pertumbuhan ekonomi berkelanjutan. Dan ini semua dimulai dari akses pemenuhan terhadap hak-hak dasar, salah satunya pendidikan. Pendidikan yang berkualitas mengubah pola pikir, mendobrak mental dan meningkatkan semangat juang. Jika memilikinya sebagai modal, kelompok masyarakat terpinggirkan yang sebenarnya merupakan salah satu dari the most underutilized asset di negara ini akan mampu menjadi aktor pencetus perubahan di masyarakat. Selain itu, pendidikan memampukan terciptanya inovasi. Di tengah dunia yang menuju persaingan global, inovasi menjadi senjata pamungkas agar masyarakat terhindar dari perbudakan dan bahkan dapat memegang posisi-posisi kunci kepemimpinan dan pengambilan Keputusan. Tahap pertama dari proses CCP adalah melihat sejarah, hal-hal apa yang menyebabkan atau mempengaruhi kondisi saat ini. Bentuk konkritnya antara lain seperti focus group discussion atau pemetaan kondisi pendidikan. Di tahap kedua, masyarakat kemudian diajak melihat sumber daya yang tersedia di sekitar, berapa jumlah tenaga pendidik formal dan informal yang dapat diberdayakan, jumlah fasilitas dan infrastruktur yang dapat dimanfaatkan untuk tujuan pendidikan maupun tenaga-tenaga muda yang mungkin berpotensi menciptakan program-program satelit untuk mendukung terciptanya ekosistem suka belajar di tengah masyarakat. Tahap selanjutnya dari proses ini, membuat visi jangka panjang. Dengan merumuskan tujuan, seluruh golongan diajak bermimpi dan mewujudkannya bersama. Dengan melakukannya bersama-sama, tidak ada yang merasa tidak terlihat, tidak terdengar atau diabaikan. Setelah itu barulah masyarakat didukung untuk membuat perencanaan teknis untuk mewujudkan visi. Kemudian, di tahap akshir dari proses CCP, proses pemantauan dan evaluasi dilaksanakan untuk menganalisa tantangan maupun mencari solusi dari hambatan pelaksanaan. Mewujudkan pendidikan berkualitas dengan menggunakan pendekatan berbasis komunitas bukannya tanpa tantangan. Karena melibatkan banyak aspek, pergesekan dapat mungkin terjadi, konflik kepentingan dan egosentrisme akan menjadi hambatan, belum lagi ketidak pedulian dan masalah pribadi yang dapat menyebabkan proyek terhenti di tengah jalan. Di sinilah pentingnya peran Pemerintah, lembaga dan komunitas untuk memberi dukungan. Masing-masing mereka memegang kunci untuk membuka pintu-pintu yang tertutup. Pemerintah memegang kunci pada terciptanya kebijakan publik yang berpihak pada penyetaraan kualitas pendidikan serta akses lapangan pekerjaan yang sesuai kualifikasi. Bergantung dari bidangnya, lembaga dapat menyediakan (1) layanan-layanan pendidikan formal serta informal yang inklusif dan terjangkau, (2) kurikulum ajar berkualitas maupun pelatihan untuk memperkuat kapasitas tenaga pendidik maupun (3) penggerak dan advokasi untuk menciptakan ekosistem pendidikan makro yang kondusif. Terakhir, komunitas sebagai ujung tombak yang berelasi secara langsung dengan masyarakat, dapat menghubungkan individu atau kelompok sasaran dengan sumber daya pendukung yang tersedia. Menciptakan pendidikan berkualitas berbasis masyarakat berarti mengajak seluruh golongan masyarakat duduk bersama dan membuka mata terhadap kondisi pendidikan yang terjadi di sekitar mereka. Melalui proses ini, diharapkan tidak ada lagi individu seperti Rusi yang terabaikan sehingga tercipta generasi emas dan bukan generasi cemas. Dengan membuka akses pendidikan bagi seluas-luasnya masyarakat, kita dapat bermimpi orang-orang seperti Rusi menemukan inovasi baru yang menguntungkan atau bahkan menjadi wirausaha yang membuka lapangan pekerjaan di lingkungannya. Â