Luh Rusmiati, Sosok di Balik Kerajinan Koran Bekas Buleleng yang Tembus Pasar Ekspor

Luh Rusmiati, Sosok di Balik Kerajinan Koran Bekas Buleleng yang Tembus Pasar Ekspor
Koran bekas disulap jadi tas kerajinan.

Luh Rusmiati membangun usaha kerajinan dari bahan yang sederhana, koran dan kertas bekas. Dari rumahnya di Desa Sudaji, Buleleng, karya itu berkembang hingga menjangkau pembeli dari luar negeri.

Usaha tersebut dikenal dengan nama Gegaen Lima Craft. Produk yang dibuat bukan cuma keranjang, tetapi juga tempat pensil, nampan, tatakan gelas, gantungan kunci, meja, hingga kursi.

Perjalanan Rusmiati dimulai pada 2016 setelah melihat tumpukan koran di rumah saudaranya. Ia lalu mencoba mengolah bahan itu sendiri dan menemukan peluang dari barang yang sebelumnya hanya dianggap sebagai limbah.

Pesanan dari orang terdekat ikut mendorong usahanya berkembang. Produk pertama yang dibuat sederhana, tetapi minat pembeli membuat Rusmiati terus mencoba bentuk baru sesuai kebutuhan dan permintaan pasar.

Kini hasil karyanya tidak hanya beredar di sekitar Buleleng. Beberapa produk pernah dipasarkan melalui art shop di Denpasar dan dibawa hingga Jepang serta Afrika.

Bagi Rusmiati, kegiatan membuat kerajinan bukan sekadar mencari pemasukan. Ia juga ingin keterampilan tersebut bisa melibatkan warga sekitar dan memberi tambahan manfaat ekonomi bagi lingkungan desanya.

Berawal dari Tumpukan Koran

Cerita itu bermula dari kunjungan ke rumah saudara. Di sana, Rusmiati melihat koran bekas yang menumpuk dan kemudian mencoba mengubahnya menjadi keranjang untuk tempat air mineral.

“Awalnya saya melihat tumpukan koran di rumah saudara. Saya ingin membuat keranjang untuk tempat air mineral,” tuturnya, dikutip dari Baliilu.com, 4 Oktober 2026.

Produk sederhana itu ternyata mendapat perhatian dari kerabat. Setelah ada permintaan baru, Rusmiati mulai membuat bentuk lain dan tidak lagi terpaku pada satu jenis kerajinan saja.

Ia belajar secara mandiri sambil terus mencoba teknik pengolahan kertas. Pengalaman dari setiap pesanan membuat keterampilannya berkembang, sekaligus membuka kemungkinan untuk membuat produk yang lebih beragam.

Dari proses itu lahir Gegaen Lima Craft. Nama tersebut kemudian dipakai untuk memasarkan berbagai kerajinan yang seluruhnya bertumpu pada kreativitas dalam mengolah bahan kertas.

Dari Koran Bekas Menjadi Produk yang Bisa Dipakai

Pilihan produknya terus bertambah seiring waktu. Rusmiati membuat tempat pensil, nampan, tatakan gelas, gantungan kunci, bokor, sampai perabot berukuran besar untuk kebutuhan rumah.

Perbedaan ukuran membuat harga barang juga beragam. Produk kecil seperti gantungan kunci dijual mulai sekitar Rp5.000 per buah, sementara meja dan kursi mengikuti ukuran serta jenis pesanan.

Bahan bakunya tidak hanya berasal dari koran. Sebagian kertas didapat dari teman melalui donasi, sehingga Rusmiati memiliki beberapa sumber bahan untuk menjaga kegiatan produksi tetap berjalan.

“Kalau koran biasanya saya beli. Kalau kertas-kertas lainnya banyak yang dapat dari donasi teman. Kadang saya barter, mereka memberikan kertas, kemudian saya kasih tempat pensil atau nampan kecil,” jelasnya.

Sistem barter itu memberi hubungan timbal balik antara pengrajin dan orang yang menyumbangkan bahan. Kertas bekas yang masuk kembali dalam bentuk barang baru yang bisa digunakan sehari hari.

Produk Gegaen Lima Craft Jangkau Jepang dan Afrika

Perkembangan usaha mulai membuka akses pasar di luar Bali. Pada 2017, Rusmiati pernah menjalin kerja sama dengan sebuah art shop di Denpasar untuk memasarkan hasil kerajinannya.

Tatakan gelas dan nampan yang diproduksi kemudian dibawa hingga ke Jepang dan Afrika. Sumber yang tersedia belum menjelaskan secara rinci mekanisme penjualan dan pengiriman barang ke kedua wilayah itu.

Wisatawan yang datang ke homestay di sekitar lokasi usaha juga ikut menjadi pasar potensial. Sebagian membeli hasil kerajinan untuk dijadikan suvenir sebelum kembali ke negara asalnya.

Lokasi usaha yang berada di kawasan Desa Wisata Sudaji memberi peluang tambahan bagi produk lokal. Arus kunjungan wisata membuka kesempatan bagi pengrajin untuk bertemu calon pembeli tanpa harus selalu mengandalkan penjualan keluar daerah.

Omzet Bulanan Bergantung pada Pesanan

Dari kegiatan tersebut, Rusmiati memperkirakan omzet usahanya bisa mencapai sekitar Rp5 juta dalam satu bulan. Jumlah itu tidak bersifat tetap karena pemasukan mengikuti banyaknya pesanan yang masuk.

Harga yang beragam juga membuat produknya bisa menyasar pembeli dengan kebutuhan berbeda. Barang kecil relatif mudah dibawa wisatawan, sedangkan produk seperti meja dan kursi menyasar permintaan dengan nilai transaksi lebih besar.

Bagi usaha kerajinan, variasi produk seperti ini bisa menjadi cara menjaga pemasukan. Saat permintaan barang besar sedang rendah, produk kecil tetap punya peluang untuk bergerak melalui wisatawan dan pembeli eceran.

Bahan Bekas Menjadi Kekuatan Cerita Produk

Kertas bekas memberi identitas yang kuat pada karya Rusmiati. Produk tidak hanya dijual sebagai barang pakai, tetapi juga membawa cerita tentang proses kreatif, pemanfaatan limbah, dan keterampilan warga desa.

Nilai tambah semacam itu cukup relevan untuk pasar suvenir. Pembeli wisatawan biasanya mencari barang yang mudah dibawa sekaligus punya cerita lokal, sehingga produk seperti tatakan gelas atau tempat pensil punya ruang tersendiri.

Pola produksi Rusmiati juga memperlihatkan bahwa bahan murah tetap bisa punya nilai ekonomi ketika desain, keterampilan, dan fungsi barang diperhatikan sejak awal proses pembuatan.

Pemerintah Desa Ikut Mendorong Pengembangan UMKM

Perbekel Desa Sudaji, I Made Ngurah Fajar Kurniawan, menyampaikan apresiasi terhadap pelaku UMKM yang mampu mengolah limbah menjadi produk bernilai ekonomi.

“Pemerintah Desa Sudaji sangat mendukung dan mengapresiasi semangat UMKM kami. Salah satunya pengelolaan limbah kertas yang diolah menjadi sebuah karya seni yang nantinya bisa dipasarkan di seluruh Nusantara maupun dunia,” ujarnya, dikutip dari Baliilu.com, 4 Oktober 2026.

Dukungan pemerintah desa juga diarahkan pada persoalan yang sering dihadapi usaha kecil, seperti kebutuhan modal, pemasaran, pembinaan, dan pengembangan jaringan usaha.

Pemerintah desa berupaya membangun hubungan dengan berbagai pihak yang dinilai bisa membantu pelaku UMKM. Langkah seperti promosi, pendampingan, dan membuka akses pasar menjadi bagian dari dukungan tersebut.

Bagi kerajinan seperti Gegaen Lima Craft, dukungan pemasaran punya pengaruh besar karena kualitas produk saja belum cukup untuk menjangkau pasar yang lebih luas.

Rusmiati Ingin Warga Sekitar Ikut Berkembang

Perempuan dari Sudaji itu tidak ingin perkembangan usaha berhenti pada dirinya sendiri. Ia berharap semakin banyak warga sekitar yang tertarik belajar dan ikut mengembangkan kegiatan kerajinan berbahan kertas.

“Harapannya usaha ini terus berkembang. Saya juga berharap ada orang-orang di sekitar yang mau ikut bersama-sama mengembangkan usaha ini,” ungkapnya.

Keinginan tersebut membuka peluang bagi Gegaen Lima Craft untuk tumbuh sebagai kegiatan ekonomi yang melibatkan lebih banyak orang. Peluang itu akan bergantung pada permintaan pasar dan kemampuan usaha menambah kapasitas produksi.

Perjalanan Rusmiati berawal dari percobaan kecil dengan koran bekas, lalu berkembang menjadi usaha kreatif yang punya pasar di dalam dan luar negeri. Kini tantangannya adalah menjaga kualitas sambil memperluas jangkauan pembeli.