Karhutla Melanda Kalimantan, Ini Bacaan Doa Memohon Turun Hujan yang Bisa Diamalkan

Ilustrasi tangan menadah doa untuk maklumat bacaan doa memohon turun hujan saat karhutla
Ilustrasi Doa Memohon Turun Hujan.

Umat Islam bisa membaca doa istisqa saat kekeringan, termasuk ketika karhutla melanda Kalimantan. Salah satu bacaan memohon hujan yang bermanfaat dan tidak mendatangkan bahaya.

Doa menjadi ikhtiar spiritual, sementara pemadaman, pencegahan pembakaran, dan perlindungan warga tetap harus berjalan. Hujan diharapkan membasahi lahan, tetapi bukan satu satunya langkah penanganan.

Data BNPB yang diperbarui pada 1 Oktober 2026 mencatat karhutla di Kalimantan Barat sejak awal tahun. Luas indikatif lahan terbakar hingga 28 September mencapai sekitar 38.310,86 hektare. Data BNPB memperlihatkan besarnya dampak kebakaran di wilayah tersebut.

Di Kalimantan Tengah, BNPB melaporkan 157,3 hektare lahan harus ditangani pada 30 September, tersebar di 43 titik kebakaran. Angka itu menggambarkan beratnya upaya pemadaman di sejumlah wilayah.

Bacaan Doa Memohon Hujan yang Bermanfaat

Majelis Tarjih Muhammadiyah mencantumkan salah satu bacaan istisqa dalam Keputusan Muktamar Tarjih XX di Garut pada 1976. Doa ini memohon hujan yang menolong dan menyuburkan.

Ungkapan di dalam doa itu juga memuat harapan agar hujan turun merata, bermanfaat, serta tidak membawa kerusakan. Bacaan ini dibahas dalam rujukan Tarjih Muhammadiyah tentang doa meminta hujan.

Salah satu doa yang dapat diamalkan adalah sebagai berikut.

Bacaan Arab:

اللَّهُمَّ اسْقِنَا غَيْثًا مُغِيثًا مَرِيئًا مَرِيعًا نَافِعًا غَيْرَ ضَارٍّ عَاجِلًا غَيْرَ آجِلٍ

Bacaan Latin:

Allahummasqina ghaythan mughiithan marii’an marii’an naafi’an ghaira dhaarrin, ‘aajilan ghaira aajil.

Artinya:

“Ya Allah, turunkanlah kepada kami hujan yang memberikan pertolongan, menyegarkan, menyuburkan, bermanfaat dan tidak membahayakan, yang segera datang dan tidak tertunda.”

Doa tersebut tercantum dalam Sunan Abu Dawud nomor 1169, yang meriwayatkan permohonan Nabi Muhammad SAW agar Allah memberikan hujan yang membawa manfaat.

Doa tersebut bisa dibaca saat masyarakat membutuhkan hujan. Pelafalan latin bersifat pendekatan untuk membantu pembaca, sedangkan umat yang mampu dianjurkan membaca lafaz Arabnya.

Isi doanya juga mengingatkan bahwa hujan yang diharapkan bukan sekadar curahan air dalam jumlah besar. Umat Islam memohon hujan yang menyegarkan, menyuburkan tanah, membantu kehidupan, dan tidak menimbulkan kerugian.

Doa Ringkas yang Pernah Dipanjatkan Nabi Muhammad SAW

Riwayat Sahih al Bukhari juga menceritakan Nabi Muhammad SAW memohon hujan saat warga mengeluhkan kekeringan. Dalam riwayat itu, beliau mengucapkan permintaan agar Allah menurunkan hujan.

Bacaan singkat tersebut bisa menjadi pilihan untuk diamalkan ketika hujan lama tidak turun.

Bacaan Arab:

اللَّهُمَّ أَغِثْنَا، اللَّهُمَّ أَغِثْنَا

Bacaan Latin:

Allahumma aghitsnaa, Allahumma aghitsnaa.

Artinya:

“Ya Allah, berilah kami hujan. Ya Allah, berilah kami hujan.”

Doa ini merujuk pada riwayat dalam Sahih al Bukhari nomor 1021, yang menceritakan permohonan hujan ketika masyarakat mengalami kekeringan. Dalam riwayat itu, Rasulullah SAW juga berdoa agar hujan dialihkan ketika curahannya mulai menimbulkan kesulitan.

Doa pendek ini cocok diingat dan dibaca saat kemarau. Saat mengutip riwayat, jumlah pengulangan sebaiknya mengikuti redaksi hadis atau tuntunan ustaz dan imam setempat.

Kapan Doa dan Salat Istisqa Dilakukan?

Permohonan hujan tidak harus menunggu pelaksanaan salat istisqa. Menurut penjelasan Tarjih Muhammadiyah, doa bisa dipanjatkan secara pribadi atau bersama jamaah di masjid maupun tempat lain.

Salat istisqa bisa menjadi pilihan ketika warga ingin berdoa bersama. Umumnya, salat ini terdiri dari dua rakaat dan dapat dilanjutkan khutbah, sesuai tuntunan imam setempat.

Dalam pelaksanaannya, umat Islam memperbanyak doa dan istigfar serta memohon rahmat Allah SWT. Rincian tata cara dapat mengikuti tuntunan ulama atau organisasi keagamaan yang dianut masyarakat setempat.

Hujan Diharapkan Membantu Memadamkan Karhutla

Hujan bisa membantu membasahi vegetasi dan tanah yang mengering akibat minimnya curah hujan. Pada lahan gambut, air yang meresap ke tanah juga berperan dalam mengurangi kondisi kering yang memudahkan api bertahan.

“Kalau kebakaran di provinsi lain, disiram water bombing langsung padam, lahan gambut tidak,” kata Kepala BNPB Suharyanto, dikutip dari kanal resmi BNPB Indonesia pada 7 Agustus 2026.

Pernyataan itu menjelaskan salah satu tantangan pemadaman di lahan gambut. Api bisa terlihat padam di permukaan, tetapi bara masih bertahan di bawah tanah dan kembali menghasilkan asap.

Karena itu, hujan memang diharapkan membantu pemulihan kondisi lahan, tetapi petugas tetap perlu memantau titik api. Pemadaman melalui jalur darat dan udara, serta pemeriksaan lokasi setelah api mereda, tetap dibutuhkan.

Ikhtiar yang Bisa Dilakukan Sambil Berdoa

Doa dan tindakan nyata perlu berjalan bersama ketika karhutla mengancam lingkungan serta kehidupan masyarakat. Ada beberapa langkah sederhana yang bisa dilakukan warga untuk membantu mencegah kebakaran meluas, diantaranya:

  1. Hindari membakar lahan. Pembukaan lahan dengan api berisiko memicu kebakaran, terutama ketika vegetasi dan tanah berada dalam kondisi kering.
  2. Laporkan kebakaran sejak awal. Jika menemukan api atau kepulan asap dari kawasan hutan dan lahan, segera informasikan kepada petugas atau aparat setempat agar penanganan bisa dilakukan lebih cepat.
  3. Lindungi diri dari asap. Kurangi aktivitas luar ruangan ketika asap pekat, gunakan masker yang sesuai, dan ikuti arahan petugas kesehatan serta pemerintah daerah.
  4. Dukung upaya pemadaman. Warga dapat mengikuti informasi resmi mengenai kondisi kebakaran dan tidak mendekati lokasi yang masih berbahaya tanpa izin petugas.

Langkah tersebut membantu mengurangi risiko bagi warga dan lingkungan. Sementara itu, pemerintah dan petugas tetap memegang peran penting dalam penanganan api, pemantauan wilayah terdampak, serta pemulihan lahan.

Doa Ketika Hujan Turun Terlalu Deras

Islam juga mengajarkan doa ketika hujan turun berlebihan dan menimbulkan kekhawatiran. Permohonan ini relevan karena hujan yang terlalu deras di wilayah tertentu bisa memicu banjir atau longsor.

Bacaan Arab:

اللَّهُمَّ حَوَالَيْنَا وَلَا عَلَيْنَا

Bacaan Latin:

Allahumma hawalaynaa wa laa ‘alaynaa.

Artinya:

“Ya Allah, turunkanlah hujan di sekitar kami dan jangan Engkau turunkan di atas kami.”

Doa tersebut tercantum dalam riwayat Sahih al Bukhari. Rasulullah SAW memanjatkan doa agar hujan turun di wilayah sekitar yang membutuhkan, bukan di tempat yang sedang menghadapi dampak buruk akibat curah hujan.

Saat karhutla melanda Kalimantan, umat Islam bisa memperbanyak doa agar Allah memberikan hujan yang membawa kebaikan dan membantu mengatasi kekeringan. Permohonan itu juga perlu disertai harapan agar hujan tidak menimbulkan bencana lain.

Doa menjadi bentuk ikhtiar batin bagi masyarakat yang terdampak. Pada saat yang sama, menjaga hutan, menghindari pembakaran lahan, serta mendukung kerja petugas merupakan tanggung jawab bersama agar kebakaran tidak terus meluas.