Aksi Komunitas Perempuan di Bekasi Mengolah Sampah Plastik Menjadi Sumber Energi

Ilustrasi sampah plastik dan galon berisi bahan bakar hasil pengolahan
Ilustrasi.

Delapan perempuan Bank Sampah Unit Gempita di Jatimelati, Bekasi, mengolah plastik sisa menjadi cairan bahan bakar. Mereka ingin mengurangi residu yang sulit dijual.

Kelompok ini memakai mesin pirolisis dari program bantuan lingkungan Pemkot Bekasi. BBM yang dihasilkan belum dijual, tetapi digunakan untuk mendukung operasional bank sampah.

Lokasinya di RT 05, RW 08, Kelurahan Jatimelati, Pondok Melati. ANTARA pada 27 September 2026 melaporkan delapan perempuan itu bergantian menyiapkan bahan dan mengolah plastik.

Idenya muncul setelah proses pemilahan masih menyisakan plastik yang tak laku dijual. Hesti Warih MR, pengurus BSU Gempita, lalu mencari cara agar sisa itu tetap berguna.

Berawal dari Sampah Plastik yang Sulit Dijual

Bagi Hesti, hasil utama yang dicari bukan penjualan bahan bakar, melainkan berkurangnya plastik sisa. Ia menjelaskan alasan itu kepada IDN Times pada 24 September 2026.

Plastik yang diolah mencakup kantong kresek, styrofoam, dan bubble wrap. Jenis ini kerap sulit terserap daur ulang biasa, sehingga tersisa setelah material yang bernilai jual dipisahkan.

Pemilahan tetap menjadi tahap awal, sementara sampah organik dikelola terpisah menjadi kompos dan media budidaya maggot. Tiap jenis sampah diarahkan ke cara pengolahan yang berbeda.

Bantuan Lingkungan untuk Pengadaan Mesin

Mesin pirolisis dibeli seharga Rp28,5 juta dari penyedia di Blitar, Jawa Timur. Alat tiba pada akhir 2024 dan mulai dipakai pada 2025, dengan kapasitas lima kilogram plastik per proses.

Program bantuan lingkungan itu dilaporkan menyediakan Rp100 juta per RW setiap tahun. Karena kegiatan Gempita berada di lingkup RT, kelompok tersebut menerima alokasi seperlima anggaran.

Namun, alokasi seperlima dari Rp100 juta berbeda dari harga mesin Rp28,5 juta. Laporan yang tersedia tidak merinci apakah pembelian juga memakai dana tambahan dari kelompok.

Cara Kerja Mesin Pengolah Plastik

Secara umum, plastik dimasukkan ke tabung tertutup lalu dipanaskan. Uap dialirkan ke kondensor, didinginkan hingga menjadi cairan, lalu hasil olahan ditampung dari mesin.

Menurut laporan WartaKota, Hesti menyebut lima kilogram plastik menghasilkan sekitar 4,2 sampai 4,5 liter cairan pirolisis dalam satu proses. Hasilnya bergantung pada komposisi bahan baku.

Mesin memisahkan cairan yang disebut sebagai premium, minyak tanah, dan solar. Namun, cairan awal masih gelap, sehingga Gempita menguji destilasi lanjutan agar hasilnya lebih jernih.

“Masih ada tahapan berikutnya,” kata Hesti tentang proses destilasi skala laboratorium, dikutip ANTARA pada 27 September 2026. Pengolahan itu masih membutuhkan pengembangan.

Mesin tak dioperasikan setiap hari. Kelompok menjalankannya saat stok plastik mencukupi, sehingga waktu pengolahan menyesuaikan pasokan bahan dan kebutuhan mengurangi residu.

Hasil Olahan Masih untuk Kebutuhan Internal

BBM hasil olahan belum dijual kepada masyarakat. Menurut laporan IDN Times dan WartaKota, cairan itu digunakan untuk kendaraan roda tiga pengangkut sampah serta mesin pemotong rumput.

Status penggunaan internal perlu ditegaskan agar hasilnya tak dianggap sebagai produk komersial. Laporan yang tersedia belum memuat uji mutu, emisi, atau pemenuhan standar BBM untuk dijual.

Tantangan di Balik Inovasi Pengolahan Plastik

Inovasi ini memperluas peran bank sampah dari sekadar mengumpulkan barang laku menjadi pengelola residu. Pengolahan termal tetap perlu operator terlatih dan kendali keselamatan serta emisi.

Pemanasan plastik menghasilkan uap dan residu yang perlu ditangani secara benar. Warga sebaiknya tidak mencoba proses ini sendiri tanpa peralatan sesuai dan pengawasan teknis.

Bank Sampah dan Persoalan Sampah Nasional

Di Gempita, sampah organik diolah menjadi kompos dan media maggot. Sebagian plastik juga dimanfaatkan menjadi kerajinan, mengikuti jenis bahan dan kondisi yang terkumpul.

Masalah yang ditangani Gempita juga terjadi di daerah lain. Portal SIPSN saat ini mencatat timbulan sampah 2025 sekitar 34,17 juta ton, dari laporan 319 kabupaten dan kota.

SIPSN mencatat sekitar 10,79 juta ton dari data itu sebagai sampah terkelola. Angka tersebut berasal dari laporan daerah, sehingga cakupannya perlu diperhatikan saat dibandingkan dengan data lain.

Kerja Gempita sejalan dengan kebiasaan memilah sampah dari rumah. Plastik yang terpisah lebih mudah diarahkan ke pengolahan, sementara organik tidak bercampur dengan bahan lain.

Tantangannya bukan hanya menambah mesin, tetapi menjaga biaya, pasokan bahan, keselamatan pekerja, dan mutu hasil. Kelompok semacam ini memerlukan pendampingan teknis, bukan hanya bantuan alat.

Hesti berharap bank sampah lain juga mengolah plastik yang tak bernilai jual. Warga bisa membantu dari rumah dengan mengurangi plastik sekali pakai dan memilah sampah sesuai jenis. Mesin pirolisis hanyalah satu pilihan dalam sistem pengelolaan yang lebih luas.