Perdana di Indonesia, Mengintip Bangunan SDN 3 Sukanegla Garut yang Terbuat dari Sampah Plastik

Perdana di Indonesia, Mengintip Bangunan SDN 3 Sukanegla Garut yang Terbuat dari Sampah Plastik
Bangunan Sekolah di Garut dari Sampah Plastik.

SDN 3 Sukanegla Garut kini memiliki fasilitas sekolah yang memanfaatkan sampah plastik bernilai rendah sebagai bahan bangunan. Proyek ini disebut sebagai sekolah pertama di Indonesia dengan konsep serupa.

Lebih dari 18 ton plastik residu dipakai untuk membangun dua ruang kelas dan dua toilet. Bahan daur ulang juga digunakan pada sejumlah bagian lain, sehingga pemanfaatannya tidak berhenti pada satu jenis material.

Proyek ini digagas Yayasan Bakti Barito bersama sejumlah mitra. Program Green Guardians ikut menjadi bagian dari inisiatif yang menggabungkan kebutuhan fasilitas pendidikan dengan persoalan sampah.

Bangunan baru itu berada di Kelurahan Sukanegla, Kecamatan Garut Kota, Kabupaten Garut, Jawa Barat. Peletakan bata pertama berlangsung pada Juni 2026 sebelum gedung diresmikan pada 30 September 2026.

Fasilitas tersebut lahir dari kebutuhan sekolah yang terus bertambah. Jumlah siswa mencapai 196 orang, sementara ruang yang tersedia belum cukup untuk menampung kegiatan belajar secara normal.

Sebelumnya, sekolah harus membagi kegiatan belajar menjadi sesi pagi dan siang karena keterbatasan ruang. Rencana pembangunan juga sempat tertunda setelah beberapa kali kondisi gempa berdampak pada sekolah.

Sampah Plastik Dipilih Menjadi Material

Bahan daur ulang ini dipilih bukan tanpa alasan. Plastik yang digunakan bukan botol atau kemasan yang mudah dijual. Proyek ini mengambil jenis plastik residu yang sulit masuk ke pasar daur ulang karena nilai ekonominya rendah.

Bungkus makanan, kemasan mi instan, sachet, dan plastik sejenis masuk ke dalam bahan yang dikumpulkan. Jenis limbah seperti ini sering luput dari sistem pemilahan karena sulit dijual kepada pemulung.

Material hasil pengolahan kemudian masuk ke berbagai bagian bangunan. Komponennya mencakup panel, plafon, atap, pipa, serta rangka jendela dan pintu, menurut keterangan pihak penggagas proyek.

Pilihan material itu membuat proyek ini punya dua sasaran sekaligus, menyediakan ruang belajar baru dan mengalihkan plastik yang berisiko berakhir di tempat pemrosesan akhir atau bocor ke lingkungan.

Diinisiasi Oleh Yayasan Bakti Barito

Yayasan Bakti Barito memprakarsai pembangunan tersebut melalui program Green Guardians. Program ini membawa pembelajaran perubahan iklim dan pengelolaan sampah lebih dekat ke lingkungan sekolah.

Kolaborasi menjadi bagian utama proyek. Bakti Barito menggandeng Kitabisa ORG dan Star Energy Geothermal, lalu bekerja sama dengan Biru Langit Utama Indonesia sebagai mitra teknologi.

“Kita need to collaborate with all stakeholders,” ujar Fifi Pangestu, Direktur Eksekutif Yayasan Bakti Barito, dikutip dari Pemerintah Kabupaten Garut. Ia menilai persoalan sampah dan perubahan iklim membutuhkan kerja bersama.

Pengelola proyek juga tidak hanya mengejar bentuk bangunan yang baru. Sejak awal, sekolah diposisikan sebagai tempat belajar langsung tentang sampah, pengolahan limbah, dan kebiasaan menjaga lingkungan.

Bangunan Baru Sekaligus Ruang Belajar

Dua ruang kelas baru memberi tambahan tempat belajar bagi siswa yang sebelumnya harus menggunakan sistem bergantian. Dua toilet ikut dibangun sehingga kebutuhan fasilitas dasar sekolah bertambah.

Kepala SDN 3 Sukanegla Fitri Firdaus menyambut pembangunan tersebut karena sekolah memang membutuhkan ruang tambahan. Bantuan itu datang setelah sekolah mengikuti pendampingan menuju Sekolah Adiwiyata.

Program lingkungan juga tetap berjalan setelah gedung selesai. Anak-anak diajak melihat pengelolaan sampah secara langsung, sehingga fasilitas sekolah sekaligus menjadi contoh nyata dari pelajaran lingkungan.

Material Tidak Langsung Dipasang

Material hasil daur ulang lebih dulu menjalani pengujian sebelum digunakan dalam pembangunan. Yayasan bekerja sama dengan Universitas Garut dan laboratorium Dinas PUPR untuk pemeriksaan teknis.

Pemerintah Kabupaten Garut menyebut sistem bangunan memakai mekanisme penguncian menyerupai balok Lego. Bagian tengah struktur diperkuat pipa untuk menambah kekuatan bangunan.

“Saya kira ideal kalau lihat produknya tadi ada 4 produk dia itu sangat baik sangat kuat,” ujar Nurdin Yana, dikutip dari Pemkab Garut. Ia menyoroti sistem pengunci serta pipa penguat pada bangunan.

Dian A. Purbasari juga menyebut biaya produksi material diupayakan setara dengan bahan bangunan konvensional. Faktor biaya akan berpengaruh besar bila model seperti ini ingin digunakan di tempat lain.

Dari Sampah Residu Menjadi Pelajaran

Duta Besar Singapura untuk Indonesia Kwok Fook Seng turut hadir saat peresmian gedung sekolah. Ia memuji pendekatan yang mengenalkan kegiatan daur ulang kepada anak sejak berada di lingkungan sekolah.

“Jadi anak-anak bisa melihat bahwa sekolahnya dia itu dari sampah,” ujar Dian A. Purbasari, dikutip dari Pemkab Garut. Pesan itu menjadi bagian penting dari konsep Green Guardians di sekolah tersebut.

Bagi sekolah, manfaat paling nyata adalah tambahan ruang belajar dan toilet. Bagi lingkungan, proyek ini menawarkan contoh pemanfaatan plastik yang selama ini sulit masuk ke jalur daur ulang biasa.

Garut kini memiliki bangunan sekolah dengan cerita yang tidak biasa. Plastik yang sebelumnya bernilai rendah dikumpulkan, diolah, diuji, lalu dipakai sebagai bagian dari fasilitas pendidikan bagi para siswa.