Lepas Karier di Kota, Pemuda Tangsi Jaya Pulang Kampung Jadi Petani Kopi

Kisah Aweng dan Zainul Afwa, dua pemuda asal Kampung Tangsi Jaya yang memilih membangun masa depan dari kebun kopi desa ketimbang merantau ke kota.

Ilustrasi hasil panen biji kopi merah oleh pemuda petani Tangsi Jaya
Ilustrasi Hasil Panen Kopi.

Aweng meninggalkan pekerjaan koki di Bandung pada 2020 untuk pulang ke Tangsi Jaya dan menggarap kopi. Kini, ia membangun penghidupan dari kebun serta pekerjaan di koperasi.

Perjalanannya bukan cerita tunggal. Di kampung yang sama, Zainul Afwa, remaja berusia 17 tahun, ikut merawat kebun kopi keluarga dan memilih mencari penghasilan di desa.

Pilihan dua warga muda itu bertemu dengan peluang pasar yang mulai terbuka melalui Koperasi Rimba Lestari. Meski begitu, biaya pupuk masih menjadi beban yang dirasakan petani setempat.

Kisah Aweng dan Afwa ini dikutip dari laporan Alif Bintang yang diterbitkan Suara.com pada Kamis, 5 November 2026, berdasarkan wawancara dengan keduanya di Kampung Tangsi Jaya.

Aweng Meninggalkan Pekerjaan Koki dan Memulai Hidup sebagai Petani Kopi

Perubahan arah hidup Aweng bermula setelah bertahun-tahun bekerja di dapur rumah makan Bandung. Ia menekuni pekerjaan sebagai koki hampir tujuh tahun, tetapi pendapatannya belum sesuai harapan.

Pada 2020, lelaki yang kini berusia 28 tahun itu pulang ke kampung halaman di Kecamatan Gunung Halu, Kabupaten Bandung Barat. Ia mulai mengurus tanaman kopi di lahan orang tuanya.

Aweng melihat kesempatan membangun penghidupan tanpa harus terus bertahan di kota. Tangsi Jaya dikenal sebagai wilayah penghasil kopi, sementara pemasaran hasil kebun terbantu koperasi setempat.

“Buat apa susah-susah ke kota kalau di kampung juga ada,” ujar Aweng kepada Suara.com pada Rabu, 4 November 2026. Kalimat itu menjadi alasan singkat di balik keputusannya pulang.

Awalnya, Aweng belajar membudidayakan kopi sambil memanfaatkan lahan keluarga. Setelah memiliki pengalaman, ia kemudian mengelola kebun sendiri yang kini menjadi salah satu sumber penghasilan.

Perubahan itu terasa dalam kesehariannya. Ia tidak lagi menjalani jam kerja dapur restoran, melainkan membagi waktu antara pekerjaan di koperasi dan kegiatan merawat tanaman kopi miliknya.

Sekarang, Aweng bekerja di Koperasi Rimba Lestari sebagai penyaring biji kopi yang sudah matang. Di sela pekerjaan itu, ia menyempatkan diri memeriksa kebun pada pagi atau sore hari.

Ketika masa panen datang, jadwalnya menjadi lebih padat. Aweng perlu menambah waktu di kebun agar tanaman terawat dan buah kopi bisa dipetik pada waktu yang sesuai.

Panen kopi di kawasan Tangsi Jaya biasanya berlangsung pada awal tahun. Pada masa itu, pekerjaan kebun menyita tenaga lebih besar, sehingga pengaturan waktu menjadi bagian dari rutinitas.

Aweng merasa lebih leluasa mengatur pekerjaan setelah kembali ke desa. Ia juga mendapat ruang mempelajari bidang baru, di luar pengalaman memasak yang diperoleh selama bekerja di kota.

Pengalaman sebagai koki, menurut Aweng, dulu hanya memberinya keterampilan di dapur. Kini, pekerjaan di kebun dan koperasi membuatnya mengenal proses pengelolaan kopi dari sisi yang berbeda.

Koperasi Rimba Lestari Membantu Petani Memasarkan Hasil Panen

Koperasi Rimba Lestari ikut membuka jalur pemasaran hasil kebun warga. Harga buah kopi arabika berkisar Rp15.000 hingga Rp20.000 per kilogram, sedangkan robusta Rp10.000 hingga Rp15.000.

Kisaran harga itu memberi gambaran peluang penjualan bagi petani Tangsi Jaya. Namun, pendapatan bersih tetap bergantung pada jumlah panen, biaya perawatan, tenaga kerja, dan ongkos produksi.

Keberadaan pembeli yang jelas membantu petani kecil mencari tujuan penjualan hasil kebun. Meski begitu, harga dan jumlah panen tetap bisa berubah, sementara biaya perawatan harus terus dikeluarkan.

Harga Pupuk Masih Menjadi Keluhan Petani Kopi

Aweng masih menghadapi persoalan yang juga dirasakan petani lain, yakni ongkos pupuk yang meningkat. Ia berharap proses pembelian pupuk untuk kebutuhan kebun tidak menyulitkan petani.

Keluhan soal pupuk itu disampaikan Aweng dalam wawancara dengan Suara.com. Bagi petani, ketersediaan pupuk dan kemudahan membelinya berkaitan langsung dengan perawatan tanaman serta biaya usaha.

Petani muda yang baru memulai perlu menghitung pengeluaran sejak awal, bukan hanya melihat harga jual per kilogram. Biaya pupuk, perawatan, tenaga, dan hasil panen ikut menentukan pendapatan bersih.

Zainul Afwa, Remaja 17 Tahun yang Memilih Mengurus Kebun Kopi Keluarga

Cerita lain datang dari Zainul Afwa, pemuda berusia 17 tahun yang mengelola kebun kopi peninggalan orang tuanya. Ia mulai mengenal pekerjaan kebun saat masih berusia belasan tahun.

Afwa bercerita bahwa dirinya sudah ikut belajar bertani sejak berumur 13 atau 14 tahun. Pengetahuan itu ia dapat langsung dari orang tuanya sebelum dipercaya mengurus lahan keluarga.

Setelah orang tuanya pensiun dari kegiatan bertani, Afwa mengambil alih pengelolaan kebun keluarga. Ia ingin menjaga lahan itu tetap produktif sekaligus memperoleh penghasilan sendiri.

Keinginannya untuk membantu keluarga juga menjadi alasan Afwa tetap mengurus kebun. Ia tidak ingin menambah beban orang tua, tetapi masih berusaha menjaga waktu untuk berkumpul bersama teman.

Afwa biasanya datang ke kebun pada pagi hari, lalu kembali ke rumah menjelang waktu zuhur. Jadwal itu ia atur sendiri agar pekerjaan tetap berjalan tanpa menghabiskan seluruh waktunya.

Pembagian waktu itu membuat Afwa tetap bisa menjalani kegiatan di luar kebun. Ia mengatur pekerjaan sejak pagi dan pulang sebelum siang, sehingga masih ada waktu untuk bertemu teman.

Selain mengurus kebun keluarga, Afwa sesekali membantu merawat lahan milik warga lain saat pekerjaannya longgar. Dari pekerjaan harian itu, ia mendapat upah Rp50.000 sampai Rp75.000.

Penghasilan itu cukup untuk kebutuhan sederhananya di kampung. Afwa belum tertarik mencari pekerjaan di kota karena ia merasa peluang di sekitar tempat tinggalnya masih bisa dijalani.

“Di sini juga sudah cukup,” ujar Afwa kepada Suara.com. Ia merasa penghasilan dari kebun dan pekerjaan harian sudah cukup untuk saat ini, sehingga belum punya alasan untuk merantau.

Afwa juga mengingatkan teman seusianya agar tidak cepat menyerah ketika mencoba bertani. “Intinya jangan pernah menyerah,” kata Afwa, yang mulai belajar mengurus kebun sejak usia 13 atau 14 tahun.

Kembali ke Desa, Membangun Penghasilan dari Kebun Sendiri

Aweng dan Afwa menempuh jalan berbeda untuk membangun penghidupan dari kopi. Aweng memulai ulang karier setelah bekerja di kota, sementara Afwa meneruskan kebun milik keluarga.

Keduanya membutuhkan pasar yang bisa diandalkan dan biaya produksi yang masuk akal. Dukungan koperasi, akses pupuk, serta pengetahuan budidaya ikut menentukan keberlanjutan usaha.

Kebun kopi perlu dikelola sebagai usaha, bukan sekadar pekerjaan pengganti setelah pulang dari kota. Catatan panen dan biaya perawatan membantu petani menilai hasil secara nyata.

Di Tangsi Jaya, kisah mereka memberi gambaran bahwa desa bisa menjadi tempat membangun masa depan saat tersedia lahan, kemauan belajar, dan jalur pemasaran. Tantangannya tetap ada, terutama menjaga hasil kebun sebanding dengan biaya.