Dosen Fisika ITB Linus Ampang Pasasa mengembangkan Bersemi Farm di Bandung untuk mengolah sampah dapur menjadi pakan maggot. Sistem ini memadukan ayam, maggot, ikan, serta tanaman.
Guna menghemat lahan di kawasan permukiman, tim merancang instalasi vertikal empat tingkat yang disebut apartemen ayam maggot. Kandang dan wadah budidaya larva disusun secara bergantian.
Melalui program ini, sampah organik rumah tangga diolah menjadi pakan alternatif. Hasil budidaya ayam petelur dan ikan nila dimanfaatkan warga untuk mendukung kebutuhan pangan warga.
Cara Bersemi Farm Mengolah Sampah Organik Menjadi Pakan Ternak
Bersemi Farm menjadi bagian dari kegiatan pengabdian masyarakat Linus. Ia ingin pengelolaan sampah dimulai dari rumah sebelum sisa makanan tercampur dengan limbah lainnya.
“Kita melihat masalah sampah di Bandung dan merasa prihatin. Karena itu, kami mencoba mengatasi masalah ini dari hulu, yaitu dari tingkat rumah tangga,” ujar Linus, dikutip dari laman resmi ITB.
Sampah organik yang terkumpul diberikan kepada larva BSF. Sampah anorganik dapat disalurkan melalui bank sampah, sehingga kedua jenis limbah tidak bercampur sejak awal.
Larva memakan bahan organik dan tumbuh menjadi biomassa yang bisa digunakan sebagai pakan alternatif. Siklus ini menghubungkan pengurangan sampah dengan kebutuhan pakan ayam dan ikan.
Tidak semua sampah aman untuk pakan. Jenis bahan, kebersihan wadah, dan pemeliharaan larva tetap perlu dikontrol agar hasil olahannya layak digunakan untuk ternak.
Apartemen Ayam Maggot Hemat Lahan di Kawasan Permukiman
Untuk menghemat lahan permukiman, tim merancang instalasi vertikal empat tingkat yang disebut apartemen ayam maggot. Kandang dan wadah budidaya larva disusun bergantian.
Kotoran ayam turut dimanfaatkan dalam siklus maggot. Susunan kandang dan wadah dibuat untuk menghemat ruang serta mengurangi penumpukan limbah di area peternakan.
Bersemi Farm juga memelihara ayam petelur dan ikan nila. Telur menjadi sumber protein bagi warga, sementara sistemnya membuka peluang produksi pangan lokal.
ITB menyebut hasil budidaya bisa mendukung pemenuhan gizi warga, termasuk lewat kegiatan posyandu. Manfaatnya tetap bergantung pada produksi dan pengelolaan hasil ternak.
Warga Ikut Mengelola Sampah dan Hasil Peternakan
Warga, karang taruna, dan kelompok pekerja ikut memberi pakan serta merawat instalasi. Kegiatan harian ini membuat program tidak hanya bertumpu pada tim kampus.
Ketua RW 02 Pasirlayung, Rahayu Wijayanti, lebih dulu menggerakkan penggunaan drum komposter di tiap RT. Kolaborasi dengan Linus kemudian berkembang ke budidaya maggot dan ayam petelur.
Fasilitas tersebut juga memakai panel surya untuk penerangan dan pompa. Teknologi ini membantu operasional, tetapi perawatan dan biaya tetap perlu diperhitungkan.
Berawal dari Hobi Beternak, Linus Meracik Jamu Kuteja
Minat Linus pada peternakan tumbuh sejak kecil di keluarga yang gemar bertani di Toraja. Pengalaman itu membantunya menangani kandang dan mengenali ayam yang sakit.
“Ini bagian dari pengabdian masyarakat,” ujar Linus, dikutip dari laporan Tribun Jabar yang terbit pada 23 Juni 2026. Ia mengembangkan kegiatan itu sambil menjadi dosen Fisika ITB.
“Nama ramuannya Kuteja,” kata Linus, dikutip dari Tribun Jabar pada 23 Juni 2026. Ia meracik kunyit, temulawak, dan jahe untuk dicampur ke minuman atau pakan ayam.
Dalam laporan yang sama, Linus menyebut obat pabrikan baru dipakai ketika ramuan yang biasa diberikan belum membantu kondisi ayam peliharaannya.
Jamu Kuteja adalah praktik perawatan yang dipilih Linus, bukan bukti pengganti seluruh obat hewan. Ayam yang sakit tetap perlu ditangani sesuai gejala dan saran tenaga kesehatan hewan.
Peluang Pengembangan dan Tantangan Pengelolaan
ITB menyebut kapasitas instalasi masih lebih besar daripada pasokan hariannya. Penambahan sampah perlu disertai pemilahan yang rapi dan jadwal pengumpulan yang jelas.
Warga yang ingin meniru model ini perlu menyepakati tugas dan tempat pengumpulan sampah. Pasokan stabil lebih berguna daripada instalasi besar yang kekurangan bahan.
Linus berharap maggot bisa dikembangkan menjadi pelet pakan ketika produksinya mencukupi. Gagasan ini masih berupa rencana pengembangan, belum disebut sebagai produk yang sudah dipasarkan.
Pengelola juga perlu mencatat jumlah sampah yang masuk, maggot yang dipanen, dan telur yang dihasilkan. Catatan ini membantu menghitung manfaat program serta biaya perawatannya.
Model ini memperlihatkan pengolahan sampah tak selalu membutuhkan mesin rumit. Pemilahan dari rumah dan pembagian tugas warga menjadi bagian utama agar sistem dapat terus berjalan.








