Sebanyak 11 anggota Kelompok Wanita Tani Mekar Tani di Desa Parikesit, Wonosobo, mengolah sekitar 100 kilogram carica setiap pekan. Buah khas Dieng itu mereka jadikan aneka produk pangan.
Usaha yang dimulai pada 2013 ini memberi nilai tambah pada hasil kebun warga. Carica yang dulu lebih sering dijual mentah kini diolah menjadi sirop, manisan, selai, jeli, hingga es krim.
Produksi berlangsung setiap Senin di dapur kelompok. Jumlahnya bisa naik saat pesanan bertambah, sedangkan sirop carica dijual melalui toko suvenir dengan harga Rp10.000 hingga Rp15.000 per pak.
Kisah KWT Mekar Tani memperlihatkan cara warga desa mengembangkan potensi daerah melalui kerja bersama. Bahan baku berasal dari kebun anggota, lalu diproses dan dikemas secara kolektif.
Bermula dari Keinginan Mengembangkan Hasil Kebun
Usaha pengolahan carica bermula ketika hasil panen di kawasan Dieng melimpah. Saat itu, banyak petani menjual buah dalam keadaan segar atau menggunakannya sebagai bahan masakan.
Ketua KWT Mekar Tani Dieng, Sri Nurhayati, melihat peluang untuk mengolah buah khas dataran tinggi itu agar punya nilai jual lebih baik. Ia kemudian mengajak anggota belajar membuat produk pangan.
“Belum dibikin seperti ini,” ujar Sri mengenang kebiasaan warga yang dahulu menjual carica mentah, dikutip dari laporan Kompas.com pada 6 November 2026.
Pada awal kegiatan, para anggota mengandalkan modal sendiri. Setiap orang membawa lima kilogram carica dari kebun dan menyetor uang Rp5.000 untuk kebutuhan produksi bersama.
Modal sederhana itu menjadi awal mereka membangun usaha. Para anggota ingin menambah penghasilan dan memanfaatkan buah di sekitar tempat tinggal, bukan sekadar menjualnya dalam keadaan mentah.
“Karena kita pengin melestarikan buah yang kita tanam.” Sri menyampaikan alasan kelompok memulai usaha olahan carica, dikutip dari laporan Kompas.com.
Mendapat Pendampingan hingga Memiliki Tempat Produksi Sendiri
Setelah berjalan secara swadaya, kelompok mendapat dukungan melalui Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat atau PNPM. Bantuan yang diterima meliputi pelatihan, modal, dan peralatan produksi.
Pendampingan membantu anggota menata proses pengolahan. Mereka mulai memiliki sarana yang mendukung kegiatan bersama, bukan lagi hanya mengandalkan percobaan sederhana di rumah masing masing.
Lokasi produksi sempat berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Para anggota lalu berinisiatif membeli tempat usaha sendiri dengan memanfaatkan pinjaman dari bank untuk menunjang kegiatan produksi.
“Alhamdulillah sudah punya sendiri,” tutur Sri ketika menceritakan tempat produksi yang dibeli kelompok dengan cara mencicil dari hasil usaha, dikutip dari Kompas.com.
Tempat produksi memberi ruang bagi anggota untuk bekerja bersama dan menjaga usaha tetap berjalan. Mereka menyisihkan sebagian hasil penjualan secara bertahap untuk membayar pinjaman bank.
Produksi Carica Mencapai 100 Kilogram Setiap Pekan
Saat ini, KWT Mekar Tani biasanya mengadakan produksi satu kali dalam sepekan, tepatnya setiap Senin. Dalam satu sesi kerja, mereka mengolah sekitar 100 kilogram buah carica dari kebun anggota.
Jumlah itu bukan batas tertinggi. Sri menyebut produksi pernah mencapai sekitar 200 kilogram dalam satu kali kegiatan sebelum pandemi Covid 19, saat permintaan pasar masih ramai.
“Bisa sampai dua kuintal karena banyak permintaan,” kata Sri, merujuk pada jumlah produksi ketika pesanan sebelum pandemi masih tinggi, dikutip dari laporan Kompas.com.
Jumlah produksi mengikuti kebutuhan pasar. Ketika pesanan bertambah, kelompok bisa mengolah lebih banyak buah, sementara jadwal mingguan membantu menjaga pasokan produk untuk toko suvenir.
Proses Pengolahan Carica hingga Menjadi Sirop dan Manisan
Pengolahan dimulai dengan memilih carica matang yang kulitnya telah berubah menjadi kekuningan. Buah kemudian dikupas, dipotong, dan dipisahkan dari bijinya sebelum masuk tahap berikutnya.
Biji carica tidak dibuang begitu saja. Bagian itu diambil sarinya untuk membuat kuah sirop, sementara potongan daging buah disiapkan sebagai isi produk yang akan dikemas.
“Harumnya itu dari buahnya, enggak pakai pengharum lain,” jelas Sri saat menerangkan bahan alami yang memberi aroma pada kuah sirop, dikutip dari Kompas.com.
Sari biji dimasak bersama air dan gula dengan perbandingan dua banding satu. Potongan buah dimasukkan ke kemasan, lalu kuah sirop dituangkan hingga melengkapi isi produk.
Teknik itu memanfaatkan bagian buah untuk fungsi yang berbeda. Aroma sirop berasal dari sari biji carica, sedangkan potongan daging buah memberi tekstur saat produk dinikmati pembeli.
Aneka Produk Carica dan Harga Jualnya
Olahan carica khas Dieng itu mencakup sirop atau manisan, selai, jeli, dan es krim. Ragam produk memberi pilihan bagi pembeli yang ingin menikmati buah ini dalam bentuk berbeda.
Menurut Sri, sirop carica dapat bertahan hingga enam bulan. Produk selai memiliki masa simpan lebih panjang, yakni sekitar 12 bulan, sebagaimana disampaikan dalam laporan Kompas.com.
Produk sirop dipasarkan melalui toko suvenir dalam kemasan berisi enam gelas. Satu pak dijual dengan kisaran harga Rp10.000 hingga Rp15.000, sesuai informasi yang disampaikan Sri.
Pilihan produk yang beragam membuka peluang pasar lebih luas. Wisatawan bisa membawa sirop sebagai buah tangan, sementara selai, jeli, dan es krim menyasar selera konsumen yang berbeda.
Potensi Usaha Lokal yang Bisa Dikembangkan Lebih Luas
Kekuatan usaha KWT Mekar Tani terletak pada hubungan langsung antara kebun dan dapur produksi. Bahan baku dari anggota membantu menjaga pasokan sekaligus memberi manfaat ekonomi kepada petani.
Pencatatan hasil panen, produksi, dan penjualan membantu kelompok membaca perubahan permintaan. Catatan itu berguna untuk menghitung kebutuhan bahan baku serta stok produk.
Kemasan dan label juga layak mendapat perhatian, terutama komposisi, tanggal produksi, batas konsumsi, serta cara penyimpanan. Keterangan jelas membantu pembeli memilih produk dengan yakin.
Kelompok bisa menonjolkan asal bahan baku dari kebun Dieng dan proses pengolahan bersama sebagai identitas produk. Cerita yang jujur akan memperkuat daya tarik tanpa perlu membuat klaim berlebihan.
Pengembangan pasar perlu disesuaikan dengan kemampuan kelompok dan aturan keamanan pangan yang berlaku. Konsistensi rasa, kebersihan alat, serta ketepatan informasi masa simpan tetap harus dijaga.
Mengolah Carica, Menjaga Potensi Ekonomi Perempuan Dieng
Perjalanan KWT Mekar Tani memperlihatkan potensi hasil kebun saat warga mengolahnya bersama. Carica kini hadir sebagai produk bernilai jual, bukan hanya buah yang dijual dalam keadaan mentah.
Dengan produksi sekitar 100 kilogram setiap pekan, 11 anggota kelompok ini menjaga usaha tetap berjalan sekaligus memperkenalkan cita rasa carica kepada pembeli yang datang ke kawasan Dieng.
Informasi tentang kelompok, kapasitas produksi, proses pengolahan, dan harga sirop dalam tulisan ini disadur dari laporan Kompas.com yang terbit pada 6 November 2026.








