fbpx

Zoo Protector: Game Edukasi Anak Usia Dini Berbasis Sustainable Development Goals untuk Meningkatkan Kepedulian Anak terhadap Lingkungan

Di era pemanasan global seperti saat ini, isu lingkungan menjadi hal penting yang wajib diperhatikan oleh seluruh masyarakat. Negara-negara di dunia berkomitmen untuk mencapai kehidupan yang lebih baik dan berkelanjutan lewat program Sustainable Development Goals (SDGs) yang berisi 17 tujuan. Indonesia menjadi salah satu negara yang ikut mendukung program tersebut, tetapi dalam pencapaiannya, Indonesia belum bisa dikatakan unggul sebab berdasarkan Sustainable Development Goals Report 2023, Indonesia berada pada urutan ke-75 dari 166 negara. Berdasarkan laporan tersebut, rata-rata tujuan Sustainable Development Goals mengalami stagnansi, diantaranya: poin 7, 11, 13, 14, 15, 16, dan 17. Hal tersebut sangat disayangkan sebab 3 dari 7 poin yang mengalami stagnansi berfokus pada lingkungan. Padahal Indonesia merupakan salah satu paru-paru dunia yang kaya akan hutan sebagai penghasil oksigen.

Kondisi laporan terbaru Tujuan Pembangunan Berkelanjutan Indonesia (SDGs) yang banyak megalami stagnansi menjadi tantangan serius yang wajib diatasi oleh seluruh lapisan masyarakat. SDGs sejatinya bukan hanya menjadi kepentingan bagi pemerintah, melainkan juga menjadi kepentingan seluruh masyarakat khususnya masyarakat Indonesia. Untuk meningkatkan kesadaran dan kepedulian masyarakat, pendidikan menjadi kunci sukses suatu bangsa untuk dapat keluar dari permasalahan yang ada. Dengan pendidikan, kepedulian dan toleransi dapat dibentuk sehingga dapat membangun karakter yang positif,

Peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) sejak dini menjadi hal yang penting (Muslich, 2011). Karakter bangsa berkaitan erat dengan kualitas SDM sebab kemajuan suatu bangsa ditentukan dari kualitas karakter bangsa. Oleh karena itu, karakter manusia perlu dibangun sejak usia dini. Akan tetapi, terdapat isu pendidikan yang disebut sebagai tiga dosa besar pendidikan, yakni, kekerasan seksual, perundungan, dan intoleransi. Tiga dosa besar pendidikan tersebut diungkapkan langsung oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Nadiem Anwar Makarim.

Pendidikan karakter menjadi masalah penting bagi bangsa Indonesia sebab pendidikan karakter berperan efektif dalam mengatasi permasalahan kehidupan sehari-hari sehingga memberikan dampak positif bagi keberlanjutan. Apabila pendidikan karakter diabaikan, peningkatan tujuan SDGs secara tidak langsung dapat terancam. SDGs merupakan tujuan yang menyasar pada pemberantasan kemiskinan, ketidaksetaraan, ketidakadilan, kerusakan lingkungan, hingga kesenjangan. Oleh karena itu, karakter positif menjadi aspek terpenting untuk mencapai tujuan SDGs.

Di era perkembangan teknologi, masyarakat mengalami perubahan-perubahan tertentu untuk dapat menyesuaikan diri dengan perkembangan tersebut. Dengan kecanggihannya, teknologi menawarkan kemudahan hidup bagi manusia. Dampak-dampak negatif dapat bermunculan pabila penggunaan teknologi tidak dilandasi dengan pengetahuan, Smartphone sebagai salah satu produk yang dihasilkan oleh kemajuan teknologi dapat menjadi bumerang bagi masyarakat. Meskipun begitu, gadget juga mempunyai  berbagai dampak positif sebab gadget diciptakan untuk mempermudah kehidupan manusia (Wiryany, dkk. 2019). Gadget juga memberikan dampak positif, diantaranya, meningkatkan kreativitas, melatih kecerdasan, hingga meningkatkan imajinasi (Mahendra, 2023).

Kemajuan teknologi menjadi salah satu faktor yang dapat memengaruhi pembentukan karakter seseorang, khususnya anak usia dini (Rahmalah, dkk. 2019). Game sebagai salah satu hasil dari kemajuan teknologi dapat memberikan dampak positif bagi penggunanya apabila dimainkan sewajarnya. Menurut situs Alodokter.com, terdapat beberapa dampak positif penggunaan game untuk anak, diantaranya, melatih untuk menyelesaikan masalah, menambah pengetahuan, meningkatkan kreativitas, melatih emosi, hingga membentuk karakter yang tidak mudah menyerah.

Berdasarkan laporan We Are Social pada tahun 2022, Indonesia merupakan negara dengan pemain video game terbanyak ketiga di dunia dengan 94,5% pengguna internet usia 16-64 tahun memainkan video game. Kemudian, berdasarkan survei oleh Decision Lab pada tahun 2018 mencatat bahwa pemain gim online paling banyak berusia 16-34 tahun. Seiring berkembangnya zaman, anak usia dini juga dapat menjadi pemain gim. Berdasarkan laporan Badan Pusat Statistik (BPS), terdapat 33,44% anak usia 0-6 tahun yang sudah dapat mengoperasikan ponsel. Sedangkan, 24,96% anak usia dini juga mampu mengakses internet. Dengan adanya perubahan gaya hidup di masyarakat, diperlukan inovasi berbasis teknologi untuk meningkatkan efektivitasnya.

Game edukasi anak usia dini

Zoo Protector merupakan video game simulasi berlatar belakang abad 21 dimana pemain akan menjadi seorang pecinta alam yang berperan untuk menjaga kelestarian lingkungan khususnya hewan. Pemain ditugaskan untuk mengamankan hewan-hewan yang terancam punah di alamnya dan membuat tempat konservasi hewan. Selain mencari hewan yang butuh pertolongan, pemain juga ditugaskan untuk merawat tempat konservasi yang dibuat. Di awal permainan, pemain akan diarahkan untuk membuat karakter. Kemudian, pemain dapat berkeliling atau berpindah ke daerah-daerah lain untuk mencari hewan yang perlu dilindungi. Pemain harus mencari hewan dengan status konservasi tertentu yakni kritis, genting, rentan, dan mendekati terancam punah. Pemain juga perlu melawan pemburu yang menghalangi pemain untuk melindungi hewan. Semakin banyak hewan yang berhasil diselamatkan dan semakin banyak pemburu yang dikalahkan, pemain akan mendapatkan banyak poin yang dapat digunakan untuk membeli perlengkapannya.

Pemain dapat membuat tempat konservasi seperti kebun binatang, suaka margasatwa, ataupun taman nasional. Setiap tempat konservasi mempunyai tingkat kesulitan tersendiri dan kelemahan serta kekurangan. Pemain juga harus mencari lahan kosong untuk membangun tempat konservasi mereka. Nantinya, pemain juga harus membuka lahan sendiri untuk membangun tempat konservasi. Pemain dapat mendesain tempat konservasinya sesuai dengan seleranya.

Setelah itu, pemain juga harus berinteraksi dengan pengunjung yang mengunjungi tempat koservasinya. Semakin banyak pengunjung yang berkunjung, maka semakin banyak poin yang didapatkan. Pemain juga memerlukan energi dan darah untuk bisa hidup. Darah dan energi pemain akan berkurang jika melawan pemburu. Lama waktu permainan juga dapat mengurangi darah dan energi pemain. Darah dan energi pemain akan bertambah apabila pemain berhasil menyelamatkan hewan ataupun membuat hewan dan pengunjung merasa senang. Selain itu, pemain juga dapat mengonsumsi makanan untuk meningkatkan darah dan energinya.

Permainan Zoo Protector secara tidak langsung dapat meningkatkan kepedulian pemainnya terhadap lingkungan karena permainan ini mengedukasi pemainnya bahwa pemburu merupakan masalah yang dapat membahayakan keseimbangan lingkungan. Selain itu, pemain dapat mengetahui lebih banyak hewan dan status konservasinya. Pemain juga akan merasakan sensasi melindungi dan merawat hewan yang tidak mudah sehingga pemain lebih menghargai tempat konservasi.

Terdapat banyak penelitian yang telah menguji efektivitas gim bergenre role playing game (RPG) terhadap kesehatan mental maupun edukasi. Berdasarkan penelitian Hikmatiar (Hikmatiar, 2019) (2019), gim dapat menjadi sarana belajar yang lebih efektif karena secara sadar maupun tidak pemain telah mengalami fase pembelajaran. Perkembangan gim digital telah menciptakan ruang simulasi yang mendekati kenyataan sehingga dapat bermanfaat bagi pemain untuk belajar berkomunikasi dan bersosialisasi (Bastian, Khamadi. 2016). Dalam penelitian Scott (2022), dilakukan penelitian terhadap game simulasi Stardew Valley yang menghasilkan kesimpulan bahwa terjadi kenaikan emosi positif dan penurunan stres setelah  bermain gim tersebut.

Oleh karena itu, Zoo Protector diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan dan kepedulian pemainnya khususnya generasi muda yang akan menjadi penerus bangsa. Zoo Protector dapat memberikan solusi terkait fenomena penggunaan gadget untuk bermain game oleh anak-anak di bawah umur dengan menyuguhkan permainan yang edukatif. Dengan pengalaman simulasi, pemain dapat merasakan emosi dengan lingkungannya sekaligus mendapatkan banyak pengetahuan dari game ini. Zoo Protector merupakan sarana efektif di era globalisasi untuk berkontribusi dalam edukasi terhadap lingkungan global.

Referensi

Alodokter. (2021, Juli 23). Selain Dampak Negatif, Ada Berbagai Dampak Positif Video Game untuk Anak. Diambil kembali dari Situs web Alodokter: https://www.alodokter.com/selain-dampak-negatif-ada-berbagai-dampak-positif-video-game-untuk-anak

Bastian, H., & Khamadi, K. (2016). Dampak Digital Game terhadap Perkembangan Sosial Budaya Masyarakat. Andharupa: Jurnal Desain Komunikasi Visual & Multimedia, 2(1), 33-44.

Hikmatiar, P. B. (2019). Pembangunan Game Simulasi Paralayang . Doctoral dissertation, Universitas Komputer Indonesia.

Mahendra, J. P. (2023). Dampak Penggunaan Gadget terhadap Perkembangan Sosial Emosional Anak Usia Dini. Jurnal Riset Pendidikan dan Pengajaran, 2(1), 1-6.

Muslich, M. (2011). Pendidikan Karakter Menjawab Tantangan Krisis Multidimensional. Jakarta: Bumi Aksara.

Rahmalah, P. Z., Puji, A., Larasati, P., & Susan, S. (2019). Pengaruh Penggunaan Gadget terhadap Pembentukan Karakter Anak Usia Dini. In Prosiding Seminar Nasional Lppm Ump (Vol. 1, pp. 302-310).

Scott, S. (2022). Video Games as a Form of Stress Relief and Emotional Improvement. Doctoral dissertation, Tyndale University.

Wiryany, D., Anggi, Y. I., & Juan, F. (2019). Pengaruh Perkembangan Teknologi terhadap Perubahan Gaya Hidup pada Masyarakat Indonesia. In Search, 23-34.