fbpx
Freepik/wirestock

Strategi – Kebijakan Yang Berkelanjutan Pada Kawasan Pariwisata Budaya Selama Pandemi Covid 19

Fajra Farhan Ekadj Tenaga Ahli Kementerian Agraria/ Mahasiswa Pascarasarjana Ilmu Lingkungan UI

Pariwisata ialah sektor sangat penting khususnya dalam meningkatkan pertumbuhan di sektor ekonomi . Pariwisata memberikan 10.2% dari GDP dunia serta menghasilkan 290 juta lapangan pekerjaan diseluruh dunia. Berkembangnya sektor wisata ini dapat memberikan dampak yang cukup besar terhadap perekonomian terkait industri-industri seperti biro travel, rumah makan, jasa fotografi, taksi air dan Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM).   Pandemi Covid-19 tidak hanya memberikan dampak serius terhadap Pariwisata Internasional namun pertumbuhan ekonomi dan ketahanan nasional . Dari data yang ada terlihat bahwasanya Covid-19 mempengaruhi jumlah wisatawan yang berdampak pada perekonomian sekitar.

Grafik jumlah wisatawan global sebelum dan sesudah Covid-19.

Disisi lain dalam upaya meningkatkan wisatawan juga harus dibatasi jumlah wisatawan yang diperbolehkan masuk.  Keadaan pandemi Covid-19 menyebabkan kekhawatiran terhadap penularan virus Covid-19.  Fenomena ini telah mendorong ke arah lebih genting di kawasan pariwisata budaya dalam ketahanan, aksesbilitas, dan keberlanjutan lingkungan. Overtourism dikala pandemi saat ini dapat dengan mudah memberikan dampak pada kondisi ekonomi, sosial dan lingkungan.  Hingga hal terburuk memberikan konflik antara pelaku wisata dan wisatawan. Oleh karena itu kebijakan terkait Covid-19 saat pandemi perlu menjadi perhatian guna memberikan ketahanan dan mitigasi atas dampak yang timbul di kawasan pariwisata budaya .

Pandemi ini berawal pada akhir tahun 2019, yang pertama kali dilaporkan di Wuhan, Tiongkok. Pada tanggal 9 Januari 2020 di tetap bahwasanya ditemukan virus baru dan diberinama Covid-19. Pada tanggal 23 Januari 2020 melalui pemerintah Tiongkok melakukan kebijakan dengan melakukan penutupan/lock down di seluruh jalur darat, air dan udara serta travel ban yang menuju Wuhan. Terlebih lagi kegiatan tahun baru Tiongkok dilarang untuk sementara waktu. Kebijakan yang dilakukan selanjutanya ialah membangun fasilitas kesehatan untuk 1000 pasien dalam waktu kurang dari 10 hari. Virus ini belum pernah diidentifikasi sebelumnya sehingga menjadi problem baru didunia medis.  Adanya virus ini meyebabkan World Heritage Organization memumkan pandemi global atau Public Health Emergency of International Consequence (PHEIC) kepada 100 negara lebih yang berada di dalam keanggotaanya

Penyebaran Covid-19 pasca PHEIC.

Pariwisata budaya atau wisata cagar budaya bertujuan untuk meletarikan nilai-nilai alam, budaya dan sejarah serta memastikan bawa generasi mendatang dapat memperoleh nilai-nilai budaya berdasarkan prinsip kegunaanya. Kegiatan pariwisata yang tidak terencana dengan baik oleh pemerintah dapat menimbulkan persepsi negetif dikalangan masyarakat, sehingga akan menimbulkan konsekuensi yang merugikan jika tidak dikelola secara akurat terutama masyarakat yang tinggal di kepulauan. Lebih lanjut, budaya dapat bertahan jika nilai edukasi, penelitian dan pengembangan situs tersebut terus tersalurkan atau tidak diam. Menjadikan budaya bagian dari pariwisata merupakan salah satu tindakan agar kawasan budaya terus bermanfaat.

Pasca kemunculan Covid-19 dilaporkan 25 negara ditemukan virus yang serupa per Februari 2020. Bahkan atas adanya pandemi ini menyebabkan resesi di hampir semua negara Eropa, terutama Italia yang mengalami overtourism. Italia merupakan negara yang kaya akan pariwisata budaya dan diakui oleh UNESCO World Heritage Site.  Pada 31 Januari 2020 pemerintah Italia mengumukan kasus Covid-19 pertama dan mebentuk sistem untuk melakukan testing massal. Italia membagi dalam 3 zonasi yaitu Zona merah, kuning dan zona aman. Kebijakan ini guna melakukan tindakan dan prefentifsisasi pada tiap-tiap zona. Pada 10 Maret 2020 Italia menutup total kegiatan publik seperti event olahraga, bisnis publik dan pariwisata yang didalamnya termasuk pariwisata budaya (Wang et al., 2021).

Diakui oleh Menteri Kesehatan Italia bahwasanya negaranya belum siap melakukan tidakan mitigasi pandemi tersebut. Jumlah wisatawan Internasional yang besar membuat pemerintah sulit melacak kebaradan virus tersebut. Angka korban Covid-19 di Italia tinggi juga dinilai akibat fasilitas kesehatan dan jumlah tenaga kerja yang belum memadai untuk menghadapi gelombang covid yang cukup besar. Disisi lain kebiasaan masyarakat Italia yang berakitifitas diluar menambah jumlah penyebaran virus tersebut. Berbeda dengan China, Jepang dan Singapura yang dinilai lebih disiplin mengahadapi pandemi Covid-19.Mitigasi sejak dini dinilai lebih efektif untuk mengurang angka penyebaran virus, seperti disiplin terhadap protokol kesahatan tracing dan kesiapan fasilitas medis

Komparasi Case Fasility Rates.

Florence merupaka salah satu negara bagian yang termasuk dalam zona merah. Florence adalah simbol dari Renaissance yang memiliki kebudayaan sejarak abad ke-15.  Aktivitas pariwisata dikawasan ini meliputi museum, cagar budaya, aktivitas musik, atraksi budaya dan lain-lain.  Wisatawan di kota ini telah tumbuh sebesar 28 persen sampai tahun 2017, olehkarena itu peran wisatawan sangat membantu dalam menompang pertumbuhan ekonomi Italia dan khususnya Florence.  (Dastgerdi et al., 2021). Sebelum pandemi Covid-19, Italia memiliki kebijakan guna pariwisata di negara tidak mengelami overtourism agar pariwisata tetap berkelanjutan. Namun sejak diumumkan pandemi global, beberapa strategi dilakukan guna pariwisata tetap berlanjut diantaranya melalui Decree-Law no.44 yang dikeluarkan pada 22 April 2021.

No. Kebijakan Deskripsi
1. Pelarangan berwisata keluar/ kedalam Italia Mengingat skenario perawatan kesehatan yang berlaku, warga negara Italia tidak disarankan untuk bepergian ke luar negeri kecuali karena alasan kebutuhan.
2. Penggunaan masker dan menjaga jarak Wajib memakai masker di tempat umum di dalam ruangan. Masker juga wajib ada di luar ruangan,
3. Transportasi Publik Hanya boleh menampung 50 persen penumpang
4. Berwisata menggunakan kendaraan pribadi Setiap baru hanya boleh diisi satu penumpang
5. Pembatasan wilayah berwisata Hanya diperbolehkan wilayah yang berada di dalam zona aman atau kuning
6. Memiliki setifikasi bebas COVID-19 1. Telah di vaksinasi Covid-19

2.Telah sembuh dari infeksi Covid-19

3. Tebukti negatif Covid-19 dengan test rapid molecular atau tes anitigen

7. Pembatasan tempat pariwisata budaya Museum dan institusi budaya lainnya juga buka pada akhir pekan. Dari Senin hingga Jumat penerimaan dibatasi untuk jumlah maksimum orang (yang bervariasi tergantung pada kapasitas museum), sesuai dengan langkah-langkah pencegahan kesehatan. Untuk kunjungan akhir pekan  perlu memesan secara online atau melalui telepon

Sedangkan di Indonesia…

Kebijakan yang pertama diterbitkan oleh pemerintah mengedalikan mengatasi situasi ini ialah dengan mengeluarkan Peraturan Pemerintah No.21 Tahun 2020 Tentang Batasan Sosial Berskala Besar Dalam Rangka Percepatan Corona Virus Disease 2019 (Covid-19).  Pada konteks keberlanjutan  kawasan pariwisata budaya mengacu pada Pasal 4 poin c dijelaskan bahwasanya pembatasan sosial berskala besar paling sedikut meliputi, pembatasan kegiatan di tempat atau fasilitas umum.  Lalu, pada pasal 6 juga dijelaskan bahwasanya pemberlakukan pembatasan sosial berskala besar diusulkan dari instansi seperti Gubernur/Bupati/Walikota kepada Menteri dan atas pertimbangan Gugus Tugas Percepatan Penangan Covid-19.

Dalam hal ini Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) membuat pedoman guna kawasan pariwisata tetap sustain dan dapat didatangi oleh wisata. Berdasarkan otoritas yang terkandung dalam Permenparekraf no. 1 Tahun 2020 Tentang Organisasi dan Tata Kerja membentuk panduan bernama CHSE (Cleanliness, Health, Safety and Environmental Sustainability) atau yang selanjutnya disebut Panduan Pelaksanaan Kebersihan, Kesehatan,Keselamatan, dan Kelestarian Lingkungan di kawasan pariwisata (Kemenpraf, 2020).  CHSE merupakan proses pemberian sertifikat kepada usaha pariwisata, usaha/fasilitas lain terkait, lingkungan masyarakat, dan destinasi pariwisata. Sertifikasi CHSE berfungsi sebagai jaminan kepada wisatawan dan masyarakat bahwa produk dan pelayanan yang diberikan sudah memenuhi protokol kebersihan, kesehatan, keselamatan, dan kelestarian lingkungan.

Kini sertifikasi CHSE telah diberikan oleh pelaku dan destinasi pariwisata di 34 provinsi di Indonesia. Namun dari data yang ada tingkat kunjungan wisatawan masih minim dibandingkan tahun 2020 khususnya wisatawan  mancanegara. Kunjungan wisatawan mancanegara ke Indonesia melalui seluruh pintu masuk bulan Februari 2021 berjumlah 117.000 kunjungan atau mengalami penurunan sebesar 86,59% dibandingkan bulan Februari  2020 yang berjumlah 872.765 kunjungan. (Kemenparekraf, 2021).

Sertifikasi CHSE Taman Nasional Kelimutu (Kemenprarekraf, 2021)

Pariwisata Budaya Berkelanjutan perlu dilestarikan sebab budaya dapat bertahan jika nilai edukasi, penelitian dan pengembangan situs tersebut terus tersalurkan atau tidak diam. Menjadikan budaya bagian dari pariwisata merupakan salah satu tindakan agar kawasan budaya terus bermanfaat. Keadaan pandemi Covid-19 memberikan tantangan agar pariwisata tetap sustain. Setiap negara mempunyai strategi dan kebijakan nya masing-masing guna mengendalikan pariwisata di masa pandemi. Namun kebijakan yang dilakukan oleh pemerintah di berbagai negara dinilai belum bisa memaksimal peningkatan jumlah wisatawan. Penyebabnya diantaranya protokol yang dinilai panjang dilalui dan rasa kecemasan masyarakat berada di tempat umum.

Refrensi

Bergmann, M., Lutz, B., Tekman, M. B., & Gutow, L. (2017). Citizen scientists reveal : Marine litter pollutes Arctic beaches and a ff ects wild life. Marine Pollution Bulletin, 125(1–2), 535–540. https://doi.org/10.1016/j.marpolbul.2017.09.055

Dastgerdi, A. S., De Luca, G., & Francini, C. (2021). Reforming housing policies for the sustainability of historic cities in the post-covid time: Insights from the atlas world heritage. Sustainability (Switzerland), 13(1), 1–12. https://doi.org/10.3390/su13010174

Fransiska, H. (2021). Clustering Provinces in Indonesia Based on Daily Covid-19 Cases. Journal of Physics: Conference Series, 1863(1), 012015. https://doi.org/10.1088/1742-6596/1863/1/012015

Kemenpraf. (2020). Panduan Pelaksanaan Kelestarian Lingkungan di Daya Tarik Wisata Panduan Pelaksanaan Kelestarian Lingkungan di Daya Tarik Wisata Panduan Pelaksanaan Kebersihan, Kesehatan, Keselamatan, dan Kelestarian Lingkungan di Daya Tarik Wisata dalam Rangka Melaksanak. Edisi Agus.

Knowles, N. L. B. (2019). Targeting sustainable outcomes with adventure tourism: A political ecology approach. Annals of Tourism Research, 79(May), 102809. https://doi.org/10.1016/j.annals.2019.102809

León-Gómez, A., Ruiz-Palomo, D., Fernández-Gámez, M. A., & García-Revilla, M. R. (2021). Sustainable tourism development and economic growth: Bibliometric review and analysis. Sustainability (Switzerland), 13(4), 1–20. https://doi.org/10.3390/su13042270

Shah, A., Kashyap, R., Tosh, P., Sampathkumar, P., & O’Horo, J. C. (2020). Guide to Understanding the 2019 Novel Coronavirus. Mayo Clinic Proceedings, 95(4), 646–652. https://doi.org/10.1016/j.mayocp.2020.02.003

Suci, R. P., Chandra, T., Thaief, I., Java, E., & Makassar, U. N. (2020). JOURNAL OF SECURITY AND SUSTAINABILITY ISSUES ISSN 2029-7017 / ISSN 2029-7025 ( online ) Volume 10 Number ( October ) ENTREPRENEURIAL ORIENTATION : MEDIATING ROLE OF CUSTOMER FUNCTIONAL VALUE Volume 10 Number ( October ). 10(9), 123–138.

Wang, X., Shi, L., Zhang, Y., Chen, H., & Sun, G. (2021). Policy disparities in fighting COVID-19. International Journal for Equity in Health, 20(33), 1–11.

Yeniasir, M., & Gökbulut, B. (2018). Perception and attitudes of local people on sustainable cultural tourism on the Islands: The case of Nicosia. Sustainability (Switzerland), 10(6), 1–16. https://doi.org/10.3390/su10061892