Freepik/wirestock

Pengalaman Membuat Ekowisata Kupu-kupu di Kala Pandemi Covid-19

Kupu-kupu merupakan hewan yang memiliki warna sayap yang indah. Seperti serangga lainnya, kupu-kupu juga mengalami metamorfosis. Indonesia memiliki keragaman kupu-kupu yang berlimpah. Diperkirakan 17.500 spesies kupu-kupu di dunia, tidak kurang dari 1.600 spesies diantaranya terdapat di Indonesia. Hal ini menjadikan Indonesia negara kedua pemilik kupu-kupu terbanyak di dunia. 50 persennya adalah kupu-kupu endemik yang hanya ada di Indonesia, ini merupakan kekayaan biodiversitas yang patut disyukuri.

Di tempat saya tinggal, tepatnya di kampung Gintung Kulon Desa Gintung Kecamatan Sukadiri Kabupaten Tangerang banyak dijumpai kupu-kupu, karena dekat dengan sungai cirarab yang merupakan habitat alami dari kupu-kupu. Kehidupan kupu-kupu sendiri berkaitan erat dengan lingkungan, jika lingkungan rusak akan membuat populasi kupu-kupu dan keragamannya berkurang. Keberadaan kupu-kupu terkait erat dengan tanaman inang (foodplant), yaitu tanaman tempat ulat kupu-kupu menetas dan makan. Perlu dicatat bahwa berkurangnya kupu-kupu akan berpengaruh juga dengan berkurangnya keanekaragaman hayati, karena kupu-kupu adalah hewan penyerbuk tanaman (polinator) yang menjaga ekologi lingkungan.

Untuk mengurangi penyusutan kupu-kupu, saya tergerak untuk membuat sebuah konservasi kupu-kupu yang kemudian dibuka menjadi ekowisata. Taman ini diberi nama Taman Kupu-kupu Sukardi. Fasilitas penangkaran yang tersedia adalah rumah kepompong dan tanaman bunga. Taman bunga memiliki lebih dari 50 spesies tanaman yang berfungsi sebagai tanaman inang dan tanaman nektar (bunga untuk makanan kupu-kupu dewasa).

Manfaat dari adanya fasilitas penangkaran ini dari sisi edukasi dapat digunakan sebagai tempat pengamatan dan penelitian untuk mengetahui lebih rinci mengenai daur hidup dan perikehidupan berbagai spesies kupu-kupu. Dari sisi konservasi, pengetahuan mengenai kupu-kupu ini sangat penting untuk menjaga keberlangsungan hidup kupu-kupu.

Penangkaran kupu-kupu ini dapat menjadi salah satu destinasi ekowisata di Desa Gintung Kec. Sukadiri Kabupaten Tangerang. Definisi Ekowisata Menurut
The International Ecotourism Society Adalah Pariwisata Bertanggung Jawab yang dilakukan pada tempat-tempat alami, serta memberi kontribusi terhadap kelestarian alam dan peningkatan kesejahteraan masyarakat setempat.

Aktivitas wisatawan pada ekowisata lebih berfokus pada pengamatan dan
pemahaman mengenai alam dan budaya peda daerah yang dikunjungi. Kegiatan yang dilakukan dengan mendukung aktivitas pelestarian alam. Di Taman Kupu-kupu Sukardi berupa pengamatan daur hidup kupu-kupu dimulai dari Telur, Ulat, Kempompong, sampai jadi kupu-kupu dewasa. Serta informasi tanaman yang ada di dalam kompleks taman mulai dari deskripsi tanaman, manfaat tanaman, klasifikasi ilmiah, dan syarat tumbuh. Dimana pengunjung dapat mengetahui informasi tersebut dengan menscan QRcode yang terpasang di tanaman.

Label QRcode pada Tanaman

Segmentasi pasar sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi sektor Pariwisata. Sasaran pasar dari Taman kupu-kupu Sukardi yang paling potensial adalah anak-anak PAUD dan Sekolah Dasar dengan pelajaran IPA dengan tematik metamorfisis kupu-kupu. Lembaga Pendidikan adalah segmentasi utama. Selain Dari Lembaga Pendidikan, keluarga yang memiliki anak kecil dan masyarakat umum lainnya juga masuk dalam segmentasi pasar yang disasar.

Selain fasilitas penangkaran seperti taman bunga dan rumah kepompong, untuk menambah daya tarik pengunjung, khususnya anak-anak, kami membuat playground atau lapangan bermain yang ramah untuk anak-anak. Tidak hanya ramah anak, tapi juga ramah lingkungan dengan memanfaatkan limbah ban bekas dan disulap jadi wahana bermain anak. Ini berdasarkan pemikiran Reuse yaitu konsep menggunakan barang berulang kali alias memperlama penggunaan produk sebelum didaur ulang atau berakhir di TPA.

Ban bekas dipilih sebagai material utama karena tersedia di sekitar kami. Sebagiannya didapat dengan meminta kepada bengkel dan sebagian lagi dengan cara membeli. Ban bekas, jika diolah dengan terampil oleh tangan-tangan yang ahli dalam seni rupa dapat menjadi wahana bermain menarik. Setidaknya ada empat wahana playground berupa permainan tradisional yaitu, lempar gelang, halang rintang, tempat duduk hewan, dan lapangan engklek.

Bicara soal pendanaan, pembangunan taman sampai playground tidak menggunakan dana hibah dari pemerintah. Dana yang digunakan murni dari kantong pribadi dan donasi dari masyarakat. Untuk mendukung pembangunan playground, kami membuka donasi online lewat situs kitabisa.com.

Pariwisata adalah bonus

Bagi kami pariwisata adalah bonus dari upaya konservasi yang akan dilakukan. Dari pandangan pariwisata sebagai bonus, maka kami perlu memikirkan harus pendapatan lain, selain daripada tiket agar konservasi tetap sustainable. Terlebih di kondisi pandemi covid 19 yang akses masyarakat sangat dibatasi termasuk kami yang sering sekali menutup taman untuk pengunjung. Sehingga pendapatan dari tiket masuk sangat minim.

Salah satu arus pendapatan adalah dengan menjual bibit tanaman. Pendanaan lain seperti pengumpulan donasi online juga memungkinkan untuk dilakukan. Memonetisasi situs taman kupu-kupu dengan iklan juga menjadi opsi alternatif sebagai sumber pendapatan. Intinya adalah jangan terfokus hanya pada satu pendapatan yaitu seperti tiket masuk pengunjung.

Hal lain yang perlu diperhatikan dalam mengelola ekowisata di kala pandemi adalah mengikuti prosedur yang ditetapkan oleh pemerintah, seperti protokol kesehatan dan pembatasan jumlah pengunjung dari total kapasitas yang dapat ditampung. Sebagai pengelola harus dapat fleksibel mengikuti kebijakan yang sering berubah-ubah sesuai dengan situasi dan kondisi terkini sampai pandemi berakhir dan wisata dibuka bebas.

Demikianlah pengalaman yang dapat saya bagikan kepada Pembaca sekalian.