fbpx
Freepik/odua

Mewujudkan Peradaban Indonesia Tanpa Diskriminasi

 

        Kebebasan berekspresi tanpa diskriminasi adalah hak asasi setiap manusia. Kebebasan inilah yang diperjuangkan para pahlawan bangsa sejak awal mula mereka berjuang merebut kemerdekaan Indonesia. Hidup tanpa diskriminasi, kelas sosial, perlakuan yang tidak adil, serta harapan agar masyarakat senantiasa hidup sejahtera adalah cita-cita yang ingin kita capai bersama. Namun, sangat disayangkan kasus diskriminasi dan ketidakadilan di negara tercinta ini tidak mengalami penurunan yang berarti. Perlakuan tidak adil terhadap kaum minoritas, intoleransi karena perbedaan agama, status sosial, ras, suku, budaya, ekonomi, ideologi, dan pilihan politik yang berbeda masih terus terjadi. Kehangatan berwarganegara mulai menurun. Sungguh hal yang memilukan tengah terjadi di negeri yang majemuk ini.

         Kasus-kasus diskriminasi banyak kita temui di berbagai daerah. Contohnya, pembakaran masjid di Binjai tahun 2019, kasus pembakaran gereja di Aceh Singkil, seorang guru dipecat karena berbeda pilihan politik pada saat pemilihan kepala daerah serentak tahun 2018 di Bekasi, kasus diskriminasi terhadap Natalius Pigai yang diejek mirip gorila oleh Ambroncius Nababan karena perbedaan pendapat mengenai vaksin, dan yang baru-baru ini terjadi pada bulan Juli 2021, yaitu dua prajurit TNI AU yang menginjak kepala seorang warga sipil papua. Kasus-kasus diskriminasi tersebut tentunya meresahkan kita semua. Jika tidak segera diselesaikan, maka akan menimbulkan kekacauan di negara kita. Keberagaman adalah suatu anugerah sekaligus cobaan bagi bangsa Indonesia.

        Seringkali terlintas dalam benak saya mengenai hal yang menyebabkan munculnya tindakan diskriminasi terhadap suatu individu atau kelompok. Hasil dari kontemplasi tersebut, saya menemukan jawaban mengenai penyebab munculnya diskriminasi yaitu, kedigdayaan subjektivitas  dan rasa superioritas diatas manusia lainnya – baik itu dari segi ekonomi, sosial, budaya, ras, dan sebagainya. Kedua hal tersebut memicu rasa keangkuhan dalam diri seseorang, sehingga merasa dirinya lebih “tinggi” dari orang lain. Dengan begitu mereka bisa bertindak sesuai dengan keinginan mereka. Menurut survei dari kedaiKOPI (Kelompok Diskusi dan Kajian Opini Publik Indonesia) tahun 2018, Kunto Adi mengatakan bahwa, semakin tinggi status sosial ekonomi masyarakat justru mereka semakin tidak toleran. Jadi, dapat kita lihat bahwa diskriminasi atau perlakuan tidak adil dapat dipicu oleh berbagai indikator dalam kehidupan kita.

        Menurut Fulthoni dkk (2009:03) Diskriminasi adalah tindakan yang membeda-bedakan suatu individu ataupun kelompok yang disebabkan karena adanya perbedaan, seperti agama, warna kulit, gender, suku, pilihan politik, ekonomi, dan sebagainya. Diskriminasi berawal dari ketidaksukaan individu atau kelompok terhadap individu atau kelompok lain yang disebabkan oleh tidak adanya toleransi terhadap perbedaan-perbedaan yang ada di tengah kehidupan masyarakat. Padahal jika kita mempelajari sejarah, Indonesia bisa merdeka karena setiap lapisan masyarakat saling bersatu dan mendukung. Mereka tidak peduli terhadap warna kulit, gender, agama, status sosial, dan sebagainya. Para pejuang kita hanya memiliki satu cita-cita, yaitu Indonesia merdeka. Dengan bersatunya beragam masyarakat, Indonesia bisa mengibarkan bendera merah putih pada 17 Agustus 1945.

        Ada sebuah buku menarik yang ditulis oleh Nenden Hendarsih berjudul Meyakini Menghargai (2018). Buku tersebut menerangkan betapa pentingnya menghargai keberagaman yang ada dengan cara memahami keberagaman itu seperti apa. Dari keseluruhan tulisan, ada kalimat yang begitu membekas di hati. Kalimat tersebut berbunyi begini, “Kami semua berbeda-beda, tapi tidak pernah membedakan. Sebab, kami semua adalah bangsa Indonesia. Perbedaan dan keragaman adalah kekayaan.” Dengan kita memahami keragaman adalah suatu anugerah dan kekayaan, maka kita akan senantiasa untuk terus merawatnya, bukan malah menghancurkan keberagaman tersebut.

        Tentunya, kita akan terus mencoba untuk mewujudkan peradaban Indonesia tanpa diskriminasi. Menjadikan Indonesia sebagai negara yang masyarakatnya saling mencintai, menghargai satu sama lain, dan tidak berpikiran konservatif. Akan tetapi, memiliki pikiran yang terbuka bahwa perbedaan merupakan suatu kekayaan yang sepatutnya dibanggakan. Tentunya kita sama-sama optimis bahwa Indonesia dapat menjadi negara dengan masyarakat yang memiliki rasa toleransi tinggi terhadap keberagaman.

        Kita sama-sama menyadari bahwa untuk mewujudkan suatu peradaban tanpa diskriminasi tidaklah semudah membalik telapak tangan. Saat ini Indonesia telah merdeka selama 76 tahun. Tentunya harapan kita bersama yaitu, dengan semakin bertambahnya umur negara kita, kasus-kasus diskriminasi dapat berkurang dan menciptakan rasa cinta dan kasih sayang dalam kehidupan berwarganegara. Membangun masyarakat Indonesia menjadi masyarakat yang terbuka terhadap semua perbedaan yang ada, menghargai setiap perbedaan tanpa mendiskreditkan individu atau golongan lain, dan tentunya dapat hidup sejahtera tanpa kesenjangan sosial yang besar bukanlah suatu hal yang mudah. Akan tetapi, jika kita menyerah dalam memperjuangkan terciptanya kesetaraan dalam kehidupan masyarakat, maka Indonesia tidak akan bisa menjadi negara majemuk yang makmur. Oleh karena itu, Ada beberapa upaya yang perlu kita lakukan dari sekarang untuk mewujudkan cita-cita kita, antara lain:

        Memperbaiki Pola Pikir

        Dalam rangka memperbaiki tingkah laku masyarakat, kita perlu terlebih dahulu memperbaiki pola pikir mereka dengan mengajarkan cara berlogika dengan benar. Jika masyarakat mampu berlogika dengan baik, maka setiap perbuatan yang mereka lakukan akan mereka pikirkan dengan benar terlebih dahulu. Contohnya, sebelum seseorang memutuskan untuk mencemooh suatu ras atau golongan tertentu, orang tersebut akan memikirkan konsekuensi dari perbuatannya. Jika hasil dari pemikirannya mengatakan konsekuensinya negatif, maka dia tidak akan melakukan hal tersebut. Tentunya dalam mengambil keputusan tersebut didasarkan pada pemikiran yang logis.

         Suatu kelompok masyarakat dapat maju karena mereka memiliki pola pikir yang bagus dan cara pandang yang terbuka terhadap suatu permasalahan. Hal paling dasar yang harus masyarakat Indonesia miliki jika ingin maju yaitu memperbaiki pola pikir mengenai suatu perbedaan dengan menerapkan cara berlogika dengan benar, sehingga mampu menimbang dampak positif dan negatif dari setiap perbuatannya. Kadang kala seseorang bertindak hanya berdasarkan hawa nafsu sesaat tanpa memikirkan konsekuensi yang dapat menimbulkan dampak negatif bagi dirinya dan orang lain.

        Menguatkan Pemahaman Terhadap Konsep Pancasila dan Kebinekaan

        Pada dasarnya kita telah mengetahui dan mempelajari mengenai pancasila dan kebinekaan sejak kita masih duduk di bangku sekolah dasar. Namun, kesalahannya yaitu metode pembelajaran yang cenderung monoton dan tidak menyuguhkan contoh konkrit dalam praktiknya. Menguatkan pemahaman masyarakat mengenai konsep pancasila dan kebinekaan dengan menyuguhkan contoh yang nyata merupakan salah satu langkah awal yang saya yakini dapat memperbaiki cara berpikir masyarakat terhadap pentingnya saling menghargai perbedaan. Baik itu perbedaan agama, ideologi, pilihan politik, ras, gender, status sosial ekonomi, dan sebagainya.

        Pancasila merupakan pandangan hidup bangsa Indonesia yang menentukan arah negara kita. Pancasila menjadi pegangan hidup kita dalam kehidupan bersosial, mengajarkan kita tentang toleransi dan keberagaman. Selain itu, Menurut saya semboyan “Bhinneka Tunggal Ika” yang terpahat pada lambang negara Indonesia yaitu Garuda Pancasila merupakan kalimat sakti yang mampu menghimpun dan mempersatukan suku, ras, budaya, kepercayaan, dan perbedaan lainnya menjadi “Indonesia”. Semboyan “Bhinneka Tunggal Ika” yang memiliki arti “Berbeda-beda tetapi tetap satu jua” bukan hanya sebatas semboyan biasa. Akan tetapi mengajarkan kepada kita arti pentingnya menghargai perbedaan dan mensyukuri keberagaman yang ada.

        Segala sesuatu yang ingin kita capai tentunya tidak bisa kita dapatkan secara instan. Perlu usaha dan kesabaran ekstra dalam mewujudkan sesuatu yang besar. Kontribusi semua elemen masyarakat tentunya sangat diperlukan untuk membangun suatu peradaban tanpa diskriminasi. Kasus-kasus diskriminasi yang tak kunjung selesai sungguh memprihatinkan dan menyesakkan dada kita. Oleh karena itu, perlu solusi praktis untuk kita terapkan agar dapat mewujudkan  peradaban Indonesia tanpa diskriminasi. Saya meyakini bahwa dengan memperbaiki mindset yang keliru mengenai suatu perbedaan dan menguatkan pemahaman kita terhadap ideologi pancasila dan semboyan bhinneka tunggal ika, maka untuk mewujudkan Indonesia tanpa diskriminasi bukanlah hal yang mustahil dilakukan.

Daftar Pustaka

Fulthoni, Arianingtyas, R., Aminah, S., & Sihombing, U. P. (2009). Memahami Diskriminasi. Jakarta Selatan: ILRC.

Hendarsih, N. (2018). Meyakini Menghargai. Jakarta: Ekpose.

Mohammad, Y. (2018). Diskriminasi dan Intoleransi di antara Status Ekonomi. beritagar.id/artikel/berita/diskriminasi-dan-intoleransi-di-antara-status-ekonomi. Diakses 22 Agustus 2021