Kisah Petani Gen Z di Kamojang yang Sukses Dongkrak Hasil Panen Berkat Energi Geotermal

Simak kisah inspiratif Hendro Gunawan, petani Gen Z di Kamojang yang sukses mendongkrak panen kentang hingga 9,5 ton memanfaatkan inovasi pupuk geotermal.

Ilustrasi petani muda dengan keranjang berisi panen kentang
Ilustrasi.

Petani muda Hendro Gunawan mengembangkan pupuk GeO-Fert di Kamojang dengan bantuan panas bumi. Ia menyebut hasil kentang kelompoknya naik dari 4 hingga 5 ton menjadi 9,5 ton.

Kelompok Hendro juga menanam cabai dan kubis. Dari penjualan beberapa komoditas itu, ia memperkirakan omzet kelompok dalam satu masa panen sudah melampaui Rp100 juta.

Angka tersebut adalah omzet usaha bersama, bukan penghasilan pribadi Hendro atau laba bersih. Sebagian pemasukan masih dipakai untuk biaya tanam, perawatan, dan pengembangan lahan.

Perubahan itu berawal dari persoalan pupuk yang dihadapi petani setempat. Pasokan pupuk kimia sempat tersendat, sedangkan pupuk organik membutuhkan pengolahan yang tepat agar aman bagi tanaman.

Peningkatan hasil pertanian tersebut tidak lepas dari pendampingan PT Pertamina Geothermal Energy (PGE) Area Kamojang. Melalui inovasi pemanfaatan energi panas bumi, kelompok tani mulai menemukan cara produksi yang lebih efisien.

Memilih Bertani Ketika Anak Muda Beralih ke Pekerjaan Lain

Hendro berusia 29 tahun dan meneruskan pekerjaan pertanian keluarganya. Ia menjadi mitra binaan PT Pertamina Geothermal Energy Area Kamojang serta anggota penggerak Kelompok Tani Hutan Cikondang.

Pilihan itu berbeda dari sebagian anak muda di sekitar Kamojang yang lebih tertarik bekerja di proyek pembangunan. Hendro justru melihat kebun sebagai usaha yang selalu dibutuhkan masyarakat.

“Makan kita hasil dari pertanian,” ujar Hendro dikutip dari CNBC Indonesia di Kamojang pada 20 Oktober 2026. Ucapan itu menggambarkan alasan sederhana yang membuatnya bertahan sebagai petani.

Regenerasi petani menjadi persoalan yang ia lihat langsung. Menurutnya, petani di sekitar Kamojang umumnya berusia lebih dari 40 tahun, sedangkan minat anak muda masih terbatas.

Hendro tidak hanya ingin menggantikan orang tuanya di kebun. Ia juga berupaya memperbarui cara kerja kelompok, terutama saat biaya pupuk dan perawatan tanaman mulai menekan usaha tani.

Baginya, pertanian memiliki peluang yang masih terbuka selama kebutuhan pangan masyarakat terus berjalan. Ia memilih mengembangkan sektor yang sudah dikenalnya sejak kecil daripada meninggalkan lahan keluarga.

GeO-Fert, Ketika Panas Bumi Membantu Mengolah Pupuk Organik

Pada 2021 hingga 2023, kelompoknya kesulitan memperoleh pupuk kimia. Peralihan ke pupuk organik membuka pilihan baru, tetapi bahan harus matang agar aman bagi tanaman.

Pupuk organik yang belum matang berisiko merusak pertumbuhan tanaman. Hendro menyebut kesalahan pengolahan bisa meningkatkan risiko gagal panen hingga 45 persen, sehingga prosesnya perlu diawasi.

Pendampingan PGE Kamojang membantu kelompok mengembangkan GeO-Fert, pupuk organik dari limbah rumah tangga dan sisa pertanian. Produk tersebut diolah menjadi pupuk padat maupun cair untuk lahan.

GeO-Fert adalah singkatan Geothermal Organic Fertilizer. PGE menyebut inovasi ini memakai uap bersuhu 60 hingga 70 derajat Celsius dari PLTP Kamojang untuk mengolah pupuk.

Di wawancara dengan Kumparan, Hendro menyebutnya “pupuk yogurt”. PGE memakai nama GeO-Fert untuk inovasi pengolahan limbah organik dengan panas bumi bersama warga Kamojang.

Bahan bakunya berasal dari beberapa jenis limbah. Hendro mencampur kotoran ayam, sapi, dan domba dengan jerami, daun pangkasan, serta sisa panen kubis sebelum fermentasi.

Kamojang berada di dataran tinggi sekitar 1.500 meter di atas laut. Cuaca setempat bisa memperlambat penjemuran, sehingga pengering panas bumi membantu menjaga produksi pupuk.

Adonan pupuk didiamkan sekitar 21 hari hingga satu bulan. Setelah itu, bahan masuk ke ruang pengering yang memakai sisa panas bumi, sehingga petani tidak perlu bergantung pada cuaca cerah.

“Panas bumi namanya Dry Cube itu cuman butuh 12 jam,” kata Erwandi, perwakilan PGE Kamojang. Penjemuran matahari yang biasanya memakan 14 hari, disadur dari ANTARA.

Dry Cube menyalurkan panas melalui pipa di ruang tertutup. Bahan pupuk tidak bersentuhan langsung dengan fluida panas bumi, sementara sisa energi pembangkit dipakai mengeringkan adonan.

PGE menyebut proses pengeringan yang sebelumnya membutuhkan lebih dari dua hari kini bisa diselesaikan dalam 12 jam. Perusahaan melaporkan efisiensi proses meningkat hingga 70 sampai 75 persen. Pertamina Geothermal Energy Tbk

Panas bumi mempercepat pengeringan, tetapi tidak menggantikan fermentasi dan pemilihan bahan yang tepat. Mutu pupuk tetap bergantung pada komposisi, kematangan, serta cara pemakaian di kebun.

GeO-Fert juga menjadi bagian dari kegiatan ekonomi warga, bukan berhenti sebagai produk pupuk. Hasilnya dipakai untuk pembibitan dan budidaya, lalu panen bisa diteruskan ke pengolahan pangan.

Produksi Kentang Meningkat, Omzet Kelompok Tembus Rp100 Juta

Hendro menyebut lahan yang biasanya menghasilkan 4 hingga 5 ton kentang kini mampu mencapai 9,5 ton setelah menggunakan pupuk organik. Angka itu berasal dari laporan hasil kelompoknya di lapangan.

Kelompoknya tidak hanya menanam kentang. Cabai keriting, cabai rawit, dan kubis ikut dibudidayakan, dengan pola tanam bergantian agar lahan tetap produktif.

Kenaikan menjadi 9,5 ton perlu dibaca sebagai hasil yang dilaporkan Hendro dari lahan kelompoknya, bukan jaminan untuk semua kebun. Bibit, tanah, air, dan perawatan tetap berpengaruh.

Dari gabungan penjualan berbagai hasil kebun, Hendro memperkirakan omzet kelompok telah melewati Rp100 juta per masa panen. Nilainya bukan keuntungan bersih yang dibawa pulang setiap anggota.

Sebagian hasil usaha masih dibutuhkan untuk membeli sarana produksi, merawat tanaman, dan memperluas lahan. Pembedaan omzet dan laba memberi gambaran lebih utuh tentang usaha tani kelompok.

Pada wawancara 21 Oktober, Hendro menyebut pengurusan sertifikasi atau izin edar GeO-Fert baru berjalan sekitar 50 persen. Keterangan itu merujuk pada status saat wawancara.

Manfaat GeO-Fert Meluas, Bukan Hanya untuk Kelompok Hendro

PGE menyebut GeO-Fert dikelola 51 petani aktif dari Kelompok Tani Hutan Blok Cikondang bersama 32 anggota Kelompok Wanita Tani Mekarsari. Penerima manfaat langsung tercatat 163 petani.

Perusahaan juga mencatat 653 penerima manfaat tidak langsung dari program itu. Dalam keterangan resminya, PGE menyebut biaya pembelian pupuk bisa ditekan hingga Rp26 juta per tahun.

PGE turut melaporkan kenaikan hasil sejumlah komoditas, termasuk kentang dan kubis, hingga 50 sampai 75 persen. Angka tersebut merupakan capaian program yang disampaikan perusahaan.

Pemanfaatan panas bumi di Kamojang juga tidak terbatas pada pengolahan pupuk. Energi yang sama digunakan untuk mengeringkan produk pangan dan mendukung kegiatan budidaya ikan.

Pengembangan berbagai kegiatan itu berada dalam program Kanyaah yang dijalankan PGE Area Kamojang. Warga ikut mengolah potensi lokal agar hasil pertanian memiliki nilai ekonomi lebih tinggi.

Air dan Pengendalian Hama Masih Menjadi Pekerjaan Rumah

Meski produktivitas mulai membaik, pekerjaan di kebun belum selesai. Hendro masih menghadapi keterbatasan air ketika kemarau, sementara tanaman memerlukan penyiraman berkala agar tumbuh optimal.

Kelompoknya juga mulai menjajaki pestisida nabati karena harga pestisida konvensional terus meningkat. Hendro berharap hama bisa dikendalikan tanpa menambah beban biaya dan tekanan pada lingkungan.

“Lingkungan itu lebih terjaga terus ada hama itu bukan dibunuh, tetapi dikendalikan,” ujar Hendro, sebagaimana dikutip Beritasatu. Penggunaannya tetap perlu disesuaikan dengan jenis tanaman dan hama.

Pemilihan pestisida nabati menjadi salah satu upaya kelompok tani untuk mengurangi ketergantungan pada bahan kimia. Namun, efektivitasnya tetap perlu diperhatikan agar pengendalian hama tidak mengganggu produktivitas tanaman.

Regenerasi Petani Membutuhkan Inovasi dan Pendampingan

Pengalaman Kamojang memperlihatkan panas bumi bisa dimanfaatkan di luar pembangkit listrik. Namun, keberhasilan pertanian tetap bergantung pada mutu pupuk, air, dan pengendalian hama.

Bagi petani muda, tantangannya bukan sekadar berani masuk ke lahan pertanian. Mereka juga membutuhkan pendampingan teknis, akses permodalan, pasokan input, dan jalur penjualan yang stabil.

Kamojang memberi contoh pemanfaatan sisa panas pembangkit untuk menjawab persoalan setempat. Bagi Hendro, inovasi baru terasa manfaatnya ketika biaya kerja lebih terkendali dan hasil panen membaik.