Cerita Petani Milenial Bangkalan Sulap Lahan Kering Jadi Ladang Cuan

Cerita Petani Milenial Bangkalan Sulap Lahan Kering Jadi Ladang Cuan
Ilustrasi Petani.

Petani muda di Desa Bandangdajah, Bangkalan, mengubah lahan kering menjadi kebun sayur dan buah. Mereka mengandalkan pola tanam beragam, irigasi tetes, serta pupuk organik.

Muhtarom, 24 tahun, belajar bertani dari dasar bersama Marnawi dan anggota Kelompok Tani Bumi Sentosa Sejahtera. Mereka mengembangkan kebun melalui program Eco Edufarming yang didampingi PHE WMO.

Warga sempat meragukan usaha mereka karena tanah di kawasan itu kering dan kemarau bisa berlangsung panjang. Namun, kelompok terus mencoba hingga tanaman hortikultura tumbuh dan laku dijual.

Dari Tanah Sulit Tanam Menjadi Kebun Produktif

Kelompok Tani Bumi Sentosa Sejahtera mengelola lahan percontohan seluas sekitar 5.000 meter persegi di Bandangdajah, Kecamatan Tanjung Bumi, Bangkalan. Sayur dan buah ditanam berdampingan di sana.

Timun, gambas, semangka, cabai, tomat, terong, dan melon tumbuh di kebun itu. Ragam tanaman memperluas pilihan panen sekaligus membuat petani mempelajari kebutuhan tiap jenis.

Muhtarom sempat khawatir karena belum punya banyak pengalaman. Ia kemudian belajar mengenali tanah, merawat tanaman, dan memahami kebutuhan tiap komoditas lewat praktik langsung di kebun.

“Faktor yang membuat tanaman subur itu perawatannya, bukan karena musim kemarau atau hujan,” ujar Muhtarom dalam dialog Sampang Menyapa, dikutip dari RRI pada 12 Oktober 2026.

Panen Bergiliran untuk Menjaga Arus Pendapatan

Kelompok ini tidak hanya mengejar satu jenis panen dalam satu waktu. Mereka mengatur waktu tanam komoditas berbeda agar hasil kebun bisa dipetik bergiliran sepanjang musim.

Menurut Investor Jatim, timun dan gambas bisa dipanen sekitar satu bulan setelah tanam. Semangka perlu kira-kira dua bulan, sedangkan cabai biasanya siap dalam 75 hingga 90 hari.

Pola tanam bergilir membantu kelompok merencanakan pasokan dengan lebih teratur. Namun, hasil panen tetap dipengaruhi cuaca, perawatan, hama, dan harga jual saat komoditas masuk pasar.

“Maksudnya itu bertani dengan menanam pohon yang selama setahun itu bisa panen terus menerus secara bergantian,” kata Marnawi, dikutip dari Duta.co pada 14 Oktober 2026.

Strategi ini memungkinkan kelompok memperoleh hasil dari beberapa komoditas dalam rentang waktu berbeda. Ketika satu jenis tanaman selesai dipanen, tanaman lain bisa menyusul sehingga pemasukan tidak hanya bergantung pada satu musim panen.

Air Menjadi Kunci Menghidupkan Lahan

Persoalan utama di Bandangdajah bukan hanya keadaan tanah, melainkan akses air saat kemarau. Sebagian lahan biasanya dibiarkan kosong karena petani kesulitan menyiram tanaman secara rutin.

Dukungan air telah dirintis melalui HIPPAM Sumber Barokah, yang dibentuk dengan bantuan PHE WMO sejak 2007. Program itu membantu kebutuhan air bersih warga di sejumlah desa sekitar.

Studi geolistrik PHE WMO dan Universitas Gadjah Mada pada 2019 memperkirakan cadangan air di Cekungan Air Tanah Ketapang mencapai 51 juta meter kubik per tahun.

Untuk kebun, kelompok memanfaatkan sumur bor dan irigasi tetes agar air mengalir langsung ke area tanaman dalam takaran yang terukur. Cara ini membantu mengurangi pemborosan saat penyiraman.

Ketersediaan sumber air tetap perlu diimbangi pengelolaan yang bijak. Petani perlu memperhitungkan kebutuhan tanaman, kondisi sumber air, dan biaya operasional agar penggunaan air untuk produksi tidak menimbulkan persoalan baru.

Limbah Ternak dan Sabut Kelapa Diolah Kembali

Petani juga mengolah bahan yang tersedia di sekitar desa. Kotoran ternak dibuat menjadi kompos, sedangkan limbah organik dapat diproses menjadi pupuk cair dan bahan pendukung budidaya lainnya.

Sabut kelapa dipakai untuk membantu menjaga kelembapan tanah. Seratnya bisa menahan air lebih lama, sehingga akar tanaman memiliki kesempatan lebih baik menyerap kelembapan dan nutrisi.

Eco Edufarming memadukan ragam tanaman, pupuk organik, pengelolaan limbah, dan irigasi hemat air. Kabar Bisnis menyebut kelompok menerapkan pertanian regeneratif untuk memperbaiki tanah.

Limbah ternak yang dulu kurang termanfaatkan kini diolah menjadi pupuk. Sisa tanaman juga bisa digunakan kembali sesuai kebutuhan, menghubungkan kegiatan pertanian dengan peternakan.

Pendekatan ini membantu petani memanfaatkan sumber daya lokal yang sebelumnya belum digunakan secara maksimal. Kebutuhan pupuk juga berpeluang dipenuhi sebagian dari bahan yang tersedia di desa, sehingga biaya produksi bisa lebih terkendali.

Menghadapi Pasar yang Sempat Meragukan Hasil Panen

Tantangan belum selesai saat tanaman tumbuh. Pada masa awal panen, sejumlah pedagang enggan membeli karena lebih terbiasa mengambil sayur dan buah dari pemasok luar Madura.

“Pemasarannya itu yang sulit. Tidak pernah saya bayangkan sesulit itu memasarkannya,” kata Marnawi dalam laporan Kabar Bisnis pada 4 Oktober 2026. Kelompok lalu membagikan sampel panen.

Sampel itu memberi kesempatan kepada pedagang untuk menilai mutu sayur dan buah secara langsung. Sebagian mulai memesan, meski harga awal yang ditawarkan untuk percobaan masih tergolong rendah.

Kini, hasil kebun dijual di pasar tradisional, kios desa, kepada pedagang sayur keliling, dan langsung ke konsumen. Kepercayaan pembeli tumbuh setelah mereka mengenal produk lokal.

Pengalaman tersebut memperlihatkan bahwa keberhasilan bertani tidak berhenti pada produksi. Petani juga perlu membangun hubungan dengan pedagang, menjaga kualitas hasil panen, dan menemukan saluran penjualan yang sesuai dengan kemampuan kelompok.

Pendapatan Menjanjikan, tetapi Risiko Tetap Ada

Investor Jatim melaporkan pendapatan kelompok mencapai Rp50 juta hingga Rp60 juta selama periode tanam enam bulan saat panen baik. Ketika gagal panen, hasilnya turun menjadi Rp5 juta hingga Rp10 juta.

Angka itu adalah pendapatan yang dilaporkan media, bukan keuntungan bersih setelah biaya dihitung. Laporan yang tersedia tidak merinci ongkos benih, tenaga kerja, air, pengemasan, dan distribusi.

Perbedaan hasil saat panen baik dan gagal panen memperlihatkan risiko usaha tani. Petani perlu mengatur jadwal tanam, mencatat biaya per komoditas, menjaga mutu, dan membangun pelanggan tetap.

Pencatatan sederhana bisa membantu kelompok mengetahui tanaman mana yang paling menguntungkan. Perhitungan itu juga berguna saat menentukan jumlah bibit, kebutuhan pupuk, dan modal yang perlu disiapkan untuk periode berikutnya.

Eco Edufarming Menjadi Tempat Belajar Warga

Eco Edufarming didampingi PT Pertamina Hulu Energi West Madura Offshore atau PHE WMO. Program ini mencakup budidaya, teknologi tepat guna, pengolahan limbah, dan pengembangan ekonomi warga.

Kelompok membuka kesempatan bagi warga lain untuk belajar mengolah lahan dan membuat pupuk organik. Sejumlah kelompok dari desa sekitar mulai mencoba pola serupa, dan mahasiswa juga pernah berkunjung.

Kelompok perempuan mengolah hasil panen menjadi produk pangan seperti bumbu pecel Madura dan kacang kribo. Usaha desa pun tidak hanya bergantung pada penjualan sayur dan buah segar.

Kegiatan tersebut memperluas manfaat program dari kebun percontohan ke aktivitas ekonomi lainnya. Pengetahuan budidaya, pengolahan bahan organik, dan pemasaran hasil pertanian menjadi keterampilan yang bisa digunakan warga untuk mengembangkan usaha.

Tips Praktis untuk Mengelola Lahan Kering

Model Bandangdajah belum tentu cocok diterapkan persis di semua wilayah, karena kondisi tanah, kedalaman air, biaya pompa, dan pasar berbeda. Praktiknya perlu disesuaikan dengan kebutuhan setempat.

Petani yang ingin mencoba pola serupa sebaiknya memilih tanaman sesuai kondisi tanah, ketersediaan air, dan permintaan pembeli. Harga tinggi saja tidak cukup menjadi alasan menentukan komoditas.

Beberapa langkah berikut bisa menjadi bahan pertimbangan bagi petani yang ingin mengembangkan lahan kering:

  1. Pilih tanaman berdasarkan kondisi tanah, ketersediaan air, dan permintaan pasar, bukan hanya karena harganya sedang tinggi.
  2. Atur masa tanam beberapa komoditas agar waktu panen tidak bertumpuk dan risiko kehilangan pendapatan bisa tersebar.
  3. Gunakan kompos atau bahan organik yang tersedia untuk membantu menjaga struktur serta kelembapan tanah, lalu pantau kebutuhan air secara rutin.
  4. Catat biaya produksi dan hasil penjualan setiap komoditas agar petani mengetahui tanaman yang memberikan hasil paling memadai.

Kekuatan model ini bukan hanya pada banyaknya tanaman, tetapi pada hubungan antara air, kondisi tanah, jadwal panen, dan pembeli. Kebun yang subur tetap perlu perhitungan biaya agar usaha bertahan.

Dari Lahan Percontohan ke Peluang Usaha Desa

Bagi Muhtarom dan rekan-rekannya, bertani kini menjadi usaha yang terus dikembangkan, bukan sekadar kegiatan musiman. Mereka belajar memasarkan hasil dan berbagi ilmu dengan petani lain.

Lahan yang dulu dibiarkan kering kini membuka peluang usaha pangan lokal. Risiko tetap ada, tetapi pengalaman Bandangdajah memperlihatkan manfaat pengelolaan sumber daya secara cermat.

Perjalanan kelompok ini juga menjadi contoh bahwa regenerasi petani bisa dimulai dari praktik langsung dan pendampingan yang sesuai kebutuhan. Anak muda tidak hanya belajar menanam, tetapi juga berhadapan dengan persoalan biaya, kualitas produk, dan tuntutan pasar.