fbpx

Food Loss and Waste: Sepiring Makanan Perburuk Krisis Iklim Global

Setiap hari manusia memiliki banyak kesempatan untuk mengambil peran dalam menjaga dan bertanggungjawab atas kelestarian lingkungan. Kesempatan itu datang dari mana saja, salah satunya bermula dari sepiring makananmu. Saat ini, diperkirakan 14% pangan global senilai $400 miliar hilang setiap tahun sejak masa panen hingga pasar ritel (FAO, 2019). Sementara laporan UNEP’s Food Waste Index 2021 menunjukkan bahwa 17% makanan yang diproduksi global terbuang sia-sia. Disi lain, menurut laporan terbaru FAO tentang The State of Food Security and Nutrition in the World (SOFI) jumlah orang yang terdampak kelaparan meningkat hingga mencapai 828 juta jiwa pada tahun 2021. Secara keseluruhan diperkirakan 3.1 miliar orang tidak memiliki akses terhadap pola makan sehat. Padahal jumlah makanan yang terbuang dapat memberi makan 1.26 miliar orang yang kelaparan setiap tahunnya. Jumlah kalori yang dihasilkan cukup untuk memberi makan setiap orang yang kekurangan gizi di bumi ini.

Selain itu food loss and waste juga menyumbang 8-10% emisi gas rumah kaca (GRK) global. Emisi GRK yang dihasilkan Indonesia selama 20 tahun terakhir mencapai 1.702,9 Megaton CO2 ekuivalen atau setara dengan 7.29% rata-rata emisi GRK per tahun. Sebagian besar emisi gas yang dihasilkan berupa gas metana, dengan potensi 25 kali lebih tinggi dibanding karbon dioksida dalam meningkatkan pemanasan global. Emisi GRK tersebut berkontribusi terhadap ketidakstabilan iklim dan perubahan cuaca ekstrem pada beberapa tahun kebelakang ini Perubahan-perubahan ini berdampak negatif pada hasil panen serta berpotensi menurunkan kualitas nutrisi tanaman dan menyebabkan gangguan rantai pasokan pangan.

Berdasarkan data The Economist Intelligence Unit (EIU) tahun 2017, Indonesia merupakan negara yang menduduki peringkat kedua penghasil food loss and waste di dunia setelah Saudi Arabia dengan sampah sebesar 300 kg/orang/tahun. Pada tahun 2021, Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) mencatat sampah sisa makanan di Indonesia mencapai 46.35 juta ton dalam skala nasional. Jumlah ini menduduki komposisi terbanyak dari total sampah yang dihasilkan. Limbah rumah tangga menghasilkan 113 kg sampah makanan per tahun dari total 1.3 juta ton sampah makanan. Rata-rata setiap orang Indonesia membuah 28kg sampah makanan pertahun, dengan sayuran 25.89%, buah-buahan 17.73%, dan tahu 9.93%. Di Indonesia, sayur-sayuan menjadi sumber utama sampah makanan. Hal ini disebabkan oleh limbah yang dihasilkan selama produksi pertanian, penanganan pasca panen, penyimpanan, hingga konsumsi oleh konsumen. Masalah sampah tidak hanya menjadi isu lingkungan, namun juga menjadi isu sosial dan ekonomi. Dalam aspek sosial, banyak permasalahan yang terjadi akibat food loss and waste, salah satunya yaitu masalah stunting pada anak dengan angka prelevansi 21.6% pada 2022. Dalam aspek ekonomi, sampah makanan yang dihasilkan setara dengan kerugian Rp 213 – Rp 551 triliun per tahun. Kerugian kuantitatif secara global yang diakibatkan oleh makanan yang terbuang dan limbah makanan setiap tahunnya sekitar 30% untuk sereal, 40-50% untuk umbi-umbian, buah dan sayuran, 20% untuk minyak, daging dan susu, serta 35%untuk ikan. Selain itu food wastage juga memberikan dampak yang signifikan terhadap kehidupan manusial, misalnya menyebabkan kelaparan.

Dilansir dari laman Global Hunger Index, tingkat kelaparan di Indonesia berada di tingkat serius. Artinya banyak orang yang sedang kelaparan di belahan wilayah lain, sedangkan kita yang serba berkecukupan justru suka membuang dan tidak menghabiskan makanan. Menurut FAO, populasi perkotaan yang meningkat, perubahan pola konsumsi pangan dan globalisasi perdagangan telah membuat rantai pasokan makanan sangat kompleks dan panjang, sehingga memerlukan perubahan pola piker dan perilaku individu untuk menangani penyebab makanan terbuang pada setiap tahap rantai pasokan makanan. Mengurangi food loss dan waste merupakan bagian dari SDGs tujuan ke 12 yaitu konsumsi dan produksi yang berkelanjutan dengan salah satu targetnya untuk mengurangi menjadi setengah food loss dan waste pada sepanjang rantai pangan dari produksi hingga konsumsi (BPS, 2016). Selain itu juga berkaitan erat dengan SDGs tujuan ke 2 yaitu menghilangkan kelaparan, mencapai

ketahanan pangan dan gizi yang baik, serta meningkatkan pertanian berkelanjutan. Lalu peran apa yang bisa kita ambil dalam menangani permasalahan tersebut? Perlu adanya penerapan dan upaya yang dilakukan bersama-sama untuk mengurangi bahkan menyelesaikan permasalahan food loss and waste. Dimulai dari individu, organisasi, bisnis, maupun pemerintahan harus

berjalan beriringan dalam meningkatkan kesadaran dan melakukan aksi nyata. Paling mudah dan dilakukan setiap hari oleh masing-masing individu yaitu dengan mengatur makanan yang akan dimakan.

Berikut kontribusi yang bisa dilakukan:

  1. Catat dan beli keperluan yang dibutuhkan saja. Pergi ke toko tanpa catatan atau perut kosong hanya akan membuat kita semakin rakus. Belilah produk yang memang diperlukan saja dengan secukupnya. Ingat, berlebihan itu tidak baik.
  2. Pilih bahan makanan. Mulailah dengan memilih imperfect food. Itu hanya penampilannya saja, sisanya masih aman untuk dikonsumsi. Selain itu belilah produk musiman! Iya, hanya pada bulan tertentu saja. Seperti Mangga yang akan terasa segar dan manis di bulan tertentu saja.
  3. Simpan sesuai kondisi. Buah dan sayuran memang sebaiknya tidak dicampur dalam atau wadah. Menyimpan susu dan telur yang benar di laci bukan di pintu kulkas!
  4. Amati asalnya. Proses produksi pangan yang kompleks berdampak langsung pada lingkungan. Daging-dagingan menghasilkan CO2 paling tinggi, sedangkan kacang dan sayuran yang paling rendah. Jadi banyakin sayurnya!
  5. Isi piringmu secukupnya saja. Meskipun terkesan sepele, banyak diantara kita secara tidak sadar membuang sisa makanan. Mulailah dengan mengambil makanan secukupnya saja. You are what you eat! Bahayanya besar lho buang-buang makanan!
  6. Olah dengan benar. Bahan pangan harus diolah dengan benar dan tepat, agar kita mendapatkan nutrisi maksimal. Selain itu pengolahan yang benar juga akan mengurangi makanan yang terbuang sia-sia.

Ambil peran dalam mengatasi perubahan iklim dari isi piringmu!

Penulis :

Noer Rahmah Zhanifathul Abhidah

Pemenang Kompetisi Menulis Beranda Inspirasi ke-9